RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

 

Nama Sekolah                   :     SMP NEGRI 12 Tasikmalya…………………………….    

Mata Pelajaran                  :     Ilmu Pengetahuan Sosial

Kelas / Semester               :     VII / 1

Standar Kompetensi         :     2.       Memahami Kehidupan sosial manusia

Kompetensi Dasar            :     2.1.    Mendeskripsikan interaksi sebagai proses sosial

Alokasi Waktu                  :     4 jam pelajaran ( 1 x pertemuan )

A. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI

     1. Menjelaskan kaitan interaksi sosial dan proses sosial.

     2. Menjelaskan pengaruh interaksi sosial terhadap keselarasan sosial.

     3. Menjelaskan pengertian dan pentingnya sosialisasi.

 

B. KEGIATAN PEMBELAJARAN

     1. Siswa mampu menjelaskan  kaitan interaksi sosial dan proses sosial.

     2. Siswa mampu menjelaskan pengaruh interaksi sosial terhadap keselarasan sosial.

     3. Siswa mampu menjelaskan pengertian dan pentingnya sosialisasi.

 

C. MATERI POKOK PEMBAHASAN

     1. Kaitan interaksi sosial dan proses sosial.

     2. Pengaruh interaksi sosial terhadap keselarasan sosial.

     3. Pengertian dan pentingnya sosialisasi.

 

D .SUMBER DAN BAHAN AJAR

      1. Gambar-gambar tentang interaksi sosial dan sosialisai.

      2. Buku paket Ilmu Pengetahuan Sosial Untuk Kelas  VII

      3. Buku LKS Ilmu Pengetahuan Sosial Untuk Kelas VII

      4. Surat Kabar

      5. Lingkungan sekitar

 

E. KARAKTERISTIK SISWA YANG DIHARAPKAN

  1. Religi  ( religious)
  2. Disiplin  (discipline)
  3. Toleransi   (tolerance)
  4. Tekun   (diligence)
  5. Keberanian  (brovery)
  6. Tanggung Jawab  (responsibility)
  7. Ketelitian  ( carefulne)
  8. Kerjasama  (cooperation )
  9. Percayadiri  (confidence)

 

F .  LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

 

Pendahuluan

Apersepsi

  • Pembelajaran diawali dengan ucapan salam (religi)
  • Mengkondisikan kelas dengan mengabsen peserta didik (disiplin)
  • Membahas tugas yang belum dikerjakan oleh siswa (tanggung jawab)
  • Memberikan apersepsi dengan mengamati lingkungan.

Motivasi

  • Memotivasi siswa dengan memberi penjelasan tentang pentingnya mempelajari tentang kaitan interaksi sosial dan proses sosial.
  • Menjelaskan pengaruh interaksi sosial terhadap keselarasan sosial.
  • Menjelaskan pengertian dan pentingnya bersosialisasi dalam kehidupan sehari-hari.
  • Menyampaikan tujuan pembelajaran
  • Menyampaikan Kriteria, Ketuntasan Milnimal (KKM) yaitu (…)

Kegiatan inti

Eksplorasi

   1. Siswa diberi rangsangan berupa pemberian materi oleh guru mengenai berbagai aspek kependudukan dalam melakukan aktivitas sehari-hari (ketelitian).

  1.    2.  Guru menggali pengetahuan awal siswa tentsng msteri yang telah lalu di                                                           

         Pelajari.

   3. Guru mengelompokan siswa secara heterogen berdasarkan kemampuan                            akademik dengan anggota masing-masing 4-5 orang.

Elaborasi

  1. Guru membagikan bahan ajar dan LKS, kepada setiap kelompok
  2. Guru mempersilahkan setiap kelompok untuk mempelajari bahan ajar (selama diskusi berlangsung guru memantau kerja dari tiap-tiap kelompok dan mengarahkan siswa yang mengalami kesulitan). Kemudian guru meminta siswa untuk mempresentasikan bahan ajar dari tiap-tiap kelompok. (ketekunan, kerjasama dan keberanian)
  3. Setelah selesai membahas bahan ajar, kemudian guru mempersilahkan peserta didik menyelesaikan LKS secara kelompok. Kemudian LKS dikumpulkan (ketekunan dan ketelitian)

Konfirmasi

  1. Guru mempersilahkan perwakilan setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil kerja sama kelompok didepan kelas mengenai materi kaitan interaksi sosial dan proses sosial selanjutnya ditanggapi kebenarannya oleh kelompok lain (percaya diri, keberanian dan toleransi).
  2. Guru memberikan tes individu yang harus dikerjakan oleh setiap siswa mengenai materi yang telah dipelajari.
  3. Guru membuat skor perkembangan tiap siswa untuk disumbangkan ke skor kelompok.
  4.        4.   Guru memberikan penghargaan terhadap kelompok yang aktif                                                     

           dalam pelaksanaan pembelajaran (toleransi)

 

Penutup

  1. Siswa dengan bimbingan guru membuat rangkuman materi pelajaran mengenai kaitan interaksi sosial dan proses sosial.
  2. Siswa dan guru melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan.
  3. Guru menugaskan siswa untuk mengerjakan tugas individu sebagai pekerjaan rumah yang harus dikumpulakan dalam pertemuan berikutnya.

 

G.  STRATEGI PEMBELAJARAN

 

  1.  Model Pembelajaran        : Pembelajaran koperatif
  2. Metode Pembelajaran       : Pemberian materi (ceramah), diskusi, tanya jawab,                                             dan pemberian tugas

 

 

H. PENILAIAN

 

Indikator Pencapaian Kompetensi

Penilaian

Teknik

Bentuk Instrumen

Instrumen

  • Menjelaskan pengertian interaksi sosial.

 

  • Menjelaskan kaitan interaksi sosial dan proses sosial.

 

  • Menjelaskan pengaruh interaksi sosial terhadap keselarasan sosial.

 

Tes tulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Portofolio

 

 

Tes uraian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rubrik

 

 

Jelaskan syarat-syarat terjadinya  interaksi sosial.

 

Jelaskan kaitan interaksi sosial dengan proses sosial!

 

Jelaskan pengertian interaksi sosial

 

Interaksi terjadi dalam tiga pola. Sebut dan jelaskan!

 

Mengapa orang atau individu melakukan interaksi sosial

 

Sebutkan tujuan interaksi sosial

 

mengapa reaksi seseorang terhadap riasan orang lain sudah dapat dikatakan sebagai

interaksi sosial

 

Buatlah kliping yang terdiri dari 5 peristiwa proses assosiatif dan 5 proses dissosiatif dari surat kabar atau tabloid.

 

    

Penilaian :

No

Nama

Proses

Interaksi

Diskusi

Lap.Diskusi

Presentasi

Tanya Jawab

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

           

            Tasikmalaya …………..……… 2012

 

 

 

 

                         Mengetahui,

 

 

Kepala  Sekolah

 

 

 

 

              (………………….)

               NIP

 

Guru Mata Pelajaran

 

 

 

 

 

 

 

                 ( DEDEN.ARIF.S )                                                                                            

NIP

 

 

Definisi kepribadian

Makna kepribadian menurut pengertian sehari-hari
Disamping itu kepribadian sering diartikan dengan ciri-ciri yang menonjol pada diri individu, seperti kepada orang yang pemalu dikenakan atribut “berkepribadian pemalu”. Kepada orang supel diberikan atribut “berkepribadian supel” dan kepada orang yang plin-plan, pengecut, dan semacamnya diberikan atribut “tidak punya kepribadian”
Ciri-ciri kepribadian
Para ahli tampaknya masih sangat beragam dalam memberikan rumusan tentang kepribadian. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Allport (Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda. Berangkat dari studi yang dilakukannya, akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri, ketegangan emosional, frustrasi dan konflik, serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan.
Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya, misalnya konstitusi dan kondisi fisik, tampang, hormon, segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh, sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu, terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal, diantaranya : teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud, teori Analitik dari Carl Gustav Jung, teori Sosial Psikologis dari Adler, Fromm, Horney dan Sullivan, teori Personologi dari Murray, teori Medan dari Kurt Lewin, teori Psikologi Individual dari Allport, teori Stimulus-Respons dari Throndike, Hull, Watson, teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. Sementara itu, Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian, yang di dalamnya mencakup :
• Karakter yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.
• Temperamen yaitu disposisi reaktif seorang, atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan.
• Sikap; sambutan terhadap objek yang bersifat positif, negatif atau ambivalen.
• Stabilitas emosi yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Seperti mudah tidaknya tersinggung, marah, sedih, atau putus asa
• Responsibilitas (tanggung jawab) adalah kesiapan untuk menerima risiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Seperti mau menerima risiko secara wajar, cuci tangan, atau melarikan diri dari risiko yang dihadapi.
• Sosiabilitas yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Seperti : sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain

ANGGARAN DASAR (AD) PAGUYUBAN PEMUDA PEMUDI CIBANGKONG (P3C) WILAYAH JABODETABEK

ANGGARAN DASAR (AD)
PAGUYUBAN PEMUDA PEMUDI CIBANGKONG (P3C)
WILAYAH JABODETABEK

Bismillahirahmannirahim

MUQADDIMAH

Sesungguhnya Allah SWT mewahyukan ajaran Islam yang hak dan sempurna untuk mengatur umat Manusia dalam kehidupan yang sesuai dengan Fitrah-Nya sebagai Khulafa di muka Bumi dengan mengabdikan diri semata-mata karena-Nya.

Menurut Iradat Allah SWT kehidupan yang sesuai dengan Fitrah-Nya adalah panduan utuh antara aspek Duniawi dan Ukhrawi, individu dan sosial serta Iman, Ilmu dan Amal dalam mencapai kebahagiaan hidup di Dunia dan Akherat.

Berkat Rahmat Allah SWT bangsa Indonesia telah berhasil merebut Kemerdekaan dari kaum Penjajah, maka uamt Manusia bewrkewajiban mengisi Kemerdekaan itu dalam wadah RI menuju Masyarakat adil dan makmur yang di Ridhai oleh Allah SWT.

Salah satunya PEMUDA PEMUDI CIBANGKONG sebagai Generasi Muda yuang sadar akan hak dan kewajibannya serta peranan tanggungjawabnya kepada umat manusia khususnya wilayah JABODETABEK, bertekad memberikan dharma baktinya untuk memperjuangkan tentang kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dalam rangka mengabdikan diri terhadap Allah SWT.

Meyakini bahwa tujuan itu dapat dicapai dengan Taufiq dan Hidayah Allah SWT., serta usaha-usaha yang teratur, terencana dan penuh kebijaksanaan, dengan nama Allah kami PEMUDA PEMUDI CIBANGKONG sebangsa dan setanah air menghimpun diri dalam satu Organisasi yang digerakan dengan pedoman berbentuk anggaran dasar sebagai berikut.

BAB I
Nama, Waktu dan Tempat
Pasal 1
Nama
Organisasi ini bernama Paguyuban Pemuda Pemudi Cibangkong, disingkat menjadi (P3C).

Pasal 2
Waktu dan Tempat Kedudukan
P3C didirikan pada tanggal 01 Januari 2011 M dan berkedudukan di Wilayah JABODETABEK.

BAB II
Azas

Pasal 3
Azas
P3c Berazaskan Pancasila dan UUD ‘45

BAB III
TUJUAN, USAHA DAN SIFAT

Pasal 4
Tujuan
Terbinanya kader yang akademis, kreatif, serta pengabdi yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah Subhanahu wata’ala.

Pasal 5
Usaha
a. Membina Pemuda Pemudi untuk menjadi kader yang ber-Akhlakul Karimah
b. Megembangkan potensi, kreativitas, keilmuan, sosial dan budaya.
c. Memepelopori pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemaslahatan masa depan dan umat Manusia.
d. Memajukan kehidupan umat, mengamalkan Dienul Islam dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
e. Berperan aktif dalam kepemudaan untuk menopang pembangunan Daerah.
f. Usaha-usaha yang lain yang sesuai dengan azas Organisasi serta berguna untuk mencapai tujuan.

Pasal 6
Sifat
P3C Bersifat Kekeluargaan dan Independensi

BAB IV
SATUS, FUNGSI DAN PERAN

Pasal 7
Status
P3C adalah Organisai Kedaerahan atau Primordial

Pasal 8
Fungsi
P3C Berfungsi sebagai Organisasi Pengkaderan

Pasal 9
Peran
P3C Berfungsi sebagai Organisasi Perjuangan dan ukhuwah Islamiyah

BAB V
KEANGGOTAAN

Pasal 10
Anggota
A. Yang dapat menjadi anggota P3C adalah masyarakat Dusun Cibangkong, Khususnya para Pemuda Pemudi Dusun Cibangkong Yang berada Diwilayah JABODETABEK yang berasal dari Daerah Dusun Cibangkong

B. Anggota P3C terdiri dari:
1. Anggota muda
2. Anggota biasa
3. Anggota luar biasa
4. Anggota kehormatan

C. Setiap anggota memiliki hak dan kewajiban

BAB VI
KEDAULATAN

Pasal 11
Kedaulatan berada di tangan anggota biasa yang pelaksanaannya diatur dalam Anggaran Rumah Tangga dan ketentuan penjabarannya

BAB VII
STRUKTUR ORGANISASI

Pasal 12
Kekuasaan
Kekuasaan Tertinggi dipegang oleh Musyawarah Anggota (MUSANG)

Pasal 13
Kepeminpinan
Kepemimpinan dipegang oleh Pengurus P3C

Pasal 14
Majlis Konstitusi
Diangkat Pengurus P3C dibentuk Majlis Pekerja Musyawarah Anggota (MP. MUSANG)

Pasal 15
Badan-badan Khusus
Dalam rangka memudahkan realisasi usaha mencapai tujuan P3C maka dibentuk, badan-badan khusus, Badan Pengelola Latihan dan Badan Penelitian Pengembangan.

BAB VIII
KEUANGAN DAN HARTA BENDA

Pasal 16
Keuangan dan Harta Benda
a. Keuangan dan harta benda P3C dikelola dengan prinsip transparansi, bertanggungjawab, efektif, efisien dan berkesinambungan.
b. Keuangan dan Harta benda P3C diperoleh dari uang pangkal anggota, iuran dan sumbangan anggota dan sumbangan usaha-usaha lain yang halal dan tidak bertentangan dengan sifat Independensi P3C.

BAB IX
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR DAN PEMBUBARAN

Pasal 17
a. Perubahan Anggaran Dasar dan pembubaran organisasi hanya dapat dilakukan oleh Musang.
b. Harta benda P3C sesudah dibubarkan harus diserahkan kepada Yayasan Amal Islam.

BAB X
PENJABARAN ANGGARAN DASAR,
ATURAN TAMBAHAN DAN PENGESAHAN

Pasal 18
Penjabaran Angaran Dasar PMPT
a. Penjabaran pasal 3 tentang azas organisasi dirumuskan dalam Memori Penjelasan tentang Pancasila sebagai Azas P3C
b. Penjabaran pasal 4 tentang tujuan organisasi dirumuskan dalam Tafsir Tujuan
c. Penjabaran pasal 5 tentang usaha organisasi dirumuskan dalam Program Kerja
d. Penjabaran pasal 6 tentang sifat organisasi dirumuskan dalam Tafsir Independensi.
e. Penjabaran pasal 8 tentang fungsi organisasi dirumuskan dalam Pedoman Perkaderan P3C
f. Penjabaran pasal 9 tentang peran organisasi dirumuskan dalam Nilai Dasar Perjuangan P3C.
g. Penjabaran Anggaran Dasar tentang hal-hal di luar point a hingga f di atas dirumuskan dalam Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 19
Aturan Tambahan
Hal-hal yang belum diatur dalam AD dan penjelasan AD dimuat dalam pertaturan/ketentuan-ketentuan tersendiri yang tidak bertentangan dengan AD dan penjabaran AD P3C

Pasal 20
Pengesahan
Pengesahan AD P3C di tetapkan pada MUSANG ke-I di………………… pada tanggal ……………..2011 bertepatan dengan tanggal……………………….. H
Pengesahan AD P3C di tetapkan pada MUSANG ke-I di………………… pada tanggal …………………2011 bertepatan dengan tanggal…………………. H
Pengesahan AD P3C di tetapkan pada MUSANG ke-1 di………………… pada tanggal ………………………2011 bertepatan dengan tanggal………………… H
Pengesahan AD P3C di tetapkan pada MUSANG ke-1 di ……………..pada tanggal ….. ……………. 2011 bertepatan dengan tanggal …..………………….H.

ANGGARAN RUMAH TANGA (ART)
PAGUYUBAN PEMUDA PEMUDI CIBANGKONG
WILAYAH JABODETABEK
BAB I
KEANGGOTAAN

Bagian I
Anggota

Pasal 1
Anggota Muda
Anggota Muda adalah PEMUDA PEMUDI yang menuntut ilmu dan mengadu nasib di daerah Jabodetabek

Pasal 2
Anggota Biasa
Anggota Biasa adalah Anggota Muda atau Pemuda Pemudi yang telah bersedia menjadi anggota dengan ditandai telah Mengisi Formulir Pendaptaran dan disahkan oleh pengurus

Pasal 3
Anggota Kehormatan
a. Adalah orang yang berjasa kepada P3C.
b. Mekanisme penetapan Anggota Kehormatan diatur dalam ketentuan tersendiri.

Bagian II
Syarat-syarat Keanggotaan

Pasal 4
a. Setiap pemuda pemudi cibangkong yang ada di wilayah Jabodetabek yang ingin menjadi Angota, harus mengajukan permohonan serta menyatakan secara tertulis kesediaaan mengikuti dan menjalankan AD/ART serat pedoman-pedoman pokok lainnya kepada Pengurus
b. Apabila sudah memenuhi syarat pada ayat a dan yang bersangkutan telah mengikuti masa perkenalan, setelah itu dinyatakan sebagai anggota muda P3C
c. Pemuda pemudi yang ada di wilayah Jabodetabek yang telah memenuhi syarat pada ayat a dan/atau angota muda P3C dan mengikuti PAB dan setelah dinyatakan sebagai Anggota Muda

Bagian III
Masa Keanggotaan

Pasal 5
a. Masa Keanggotaan terhitung sejak mengikuti masa perkenalan (AM) dan berakhir:
1. Maksimal sudah berumur 50 Tahun
b. Anggota habis masa keanggotaannya karena:
1. Telah habis masa keanggotaannya
2. Meninggal Dunia
3. Atas permintaan sendiri
4. Diberhentikan atau di pecat
c. Anggota yang habis masa keanggotaannya saat menjadi Pengurus, diperpanjang masa Anggotanya sampai habis masa kepengurusan

Bagian IV
Hak dan kewajiban

Pasal 6
Hak Anggota
1. Anggota hanya berhak mengeluarkan pendapat, mengajukan usul atau pertanyaan secara lisan atau tertulis kepada Pengurus, mengikuti PAB dan kegiatan lainnya yang bersifat umum.
2. Anggota biasa disamping mempunyai hak sebagai mana ayat (a) juga mempunyai hak untuk memilih dan dipilih menjadi Pengurus.
3. Anggota luar biasa mempunyai hak mengajukan usul atau saran dan peertanyaan kepada pengurus secara lisan atau lisan dan bila diperlukan dapat menjadi Pengurus lembaga minat dan bakat.
4. Anggota kehormatan dapat mengajukan saran atau usulan pertanyaan kepada pengurus secara lisan atau lisan

Pasal 7
Kewajiban Anggota
a) Membayar iuran anggota
b) Menjaga nama baik organisasi
c) Berpartisipasi dalam setiap kegiatan P3C
d) Bagi anggota luar biasa dan anggota kehormatan tidak berlaku ayat (a)

BAGIAN V
SANKSI ANGGOTA

Pasal 8
Sanksi Anggota
a. Sanksi adalah bentuk hukuman sebagai bagian proses pembinaan yang diberikan organisasi kepada anggota yang melalaikan tugas, melanggar ketentuan organisasi, merugikan atau mencemarkan nama baik organisasi, dan/atau melakukan tindakan kriminal dan tindakan melawan hokum lainnya.
b. Sanksi dapat berupa teguran, peringatan, skorsing, pemecatan atau bentuk lain yang ditentukan oleh pengurus dan diatur dalam ketentuan tersendiri.
c. Anggota yang dikenakan sanksi dapat mengajukan pembelaan di forum yang ditunjuk untuk itu.

BAB II
STRUKTUR ORGANISASI

A. STRUKTUR KEKUASAAN

Bagian 1
Musang

Pasal 9
Status
a) MUSANG merupakan Musawarah Anggota
b) MUSANG memang Kekuasaan Tertinggi Organisasi
c) MUSANG diadakan 2 (dua) tahun sakali
d) Dalam keadaan luar biasa, Musang dapat diadakan menyimpang dari ketentuan pasal 9 ayat (c)
e) Dalam keadaan luar biasa, MUSANG dapat diselenggarakan atas inisiatip 1/3 anggota biasa dengan persetujuan sekurang-kurangnya melebihi setengah lebih satu dari jumlah Anggota

Pasal 10
Kekuasaan/wewenang
a) Menetapkan AD/ART, pedoman-pedoman pokok, garis-garis pokok Organisasi dan Program Kerja
b) Memilih Pengurus dengan memilih Ketua Umum yang sekaligus merangkap sebagai Formatur dan Mide Formatur
c) Menetapkan calon-calon MP,MUSANG
d) Menetapkan tempat penyelenggaran musang berikutnya

Pasal 11
Tata tertib
a) Pesarta MUSANG terdiri dari pengurus, anggota biasa. Anggota MP.MUSANG dan undangan
b) Pengurus adalah penanggung jawab penyelenggara MUSANG, anggota muda, Anggota MP.MUSANG dan Undangan merupakan peserta peninjau
c) Peserta biasa mempunyai hak suara dan hak bicara, sedangkan peninjau mempunyai hak bicara
d) Pemimpin sidang MUSANG dipilih dari peserta dan berbentuk fresedium
e) MUSANG baru dapat dinyatakan syah apabila dihadiri oleh dari separuh jumlah Anggota
f) Apabila ayat (e) tidak dipenuhi maka MUSANG di undur selama 1X24 jam dan setelah itu dinyatakan syah
g) Setelah laporan pertanggung jawaban pengurus diterima oleh MUSANG, maka Pengurus dinyatakan demisioner.

B. STRUKTUR PIMPINAN

Bagian II
Pengurus

pasal 12
Status
a) Pengurus adalah badan/instansi kepemimpinan tertinggi Organisasi.
b) Masa jabatan Pengurus 2 (dua) tahun terhitung sejak pelantikan/serah terima jabatan

Pasal 13
Personalia Kepengurusan
a) Pormasi Pengurus sekurang-kurangnya terdiri dari Ketua umum, Sekretaris Umum dan Bendahara Umum.
b) Yang dapat menjadi Pengurus adalah anggota biasa yang telah mengikuti PAB.
c) Setiap personalia Pengurus tidak diperbolehkan untuk menjabat lebih dari dua periode kepengurusan kecuali jabatan Ketua Umum.
d) Apabila Ketua Umum tidak dapat menjalankan tugas/nonaktif, maka dapat dipilih pejabat ketua umum oleh siding pleno Pengurus

Pasal 14
Tugas dan Wewenang
a) Selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari setelah/MUSANG personalia Pengurus sudah di bentuk dan Pengurus denisioner segera mengadakan serah terima jabatan dengan pengurus baru.
b) Pegurus baru dapat menjalankan tugasnya setelah serah terima jabatan dengan pengurus demisioner.
c) Melaksanakan ketetapan-ketetapan MUSANG.
d) Menyampaikan ketetapan-ketetapan perubahan penting yang berhubungan dengan P3C kepada Anggota
e) Melaksanakan sidang pleno setiap semester kegiatan, atau setidak-tidaknya 4 (empat) kali selama periode berlangsung
f) Melaksanakan musang akhir periode
g) Menyiapkan draf materi MUSANG
h) Menyiapkan LPJ kepada anggota melalui MUSANG
i) Dapat menskorsing, memecat dan merehabilitasi secara langsung terhadap anggota atau pegurus

Bagian III
Rangkap Anggota dan Rangkap Jabatan

Pasal 15
a. Dalam keadaan tertentu anggota P3C dapat merangkap menjadi anggota organisasi lain.
b. Pengurus P3C tidak dibenarkan untuk merangkap jabatan pada organisasi lain sesuai ketentuan yang berlaku.
c. Ketentuan tentang jabatan seperti dimaksud pada ayat (b) di atas, di atur dalam ketentuan tersendiri.
d. Anggota P3C yang mempunyai kedudukan pada organisasi lain diluar P3C, harus menyesuaikan tindakannya dengan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga dan ketentuan-ketentuan organisasi lainnya.

C. MAJLIS KONSTITUSI

Bagian IV
MP Musang

Pasal 16
Status, Keanggoan dan Masa Jabatan
f) Anggota MP MUSANG adalah aggota P3C/dewan kehormatan yang mempunyai kapasitas intelektual dan pengalaman organisasi untuk satu periode kepengurusan, serta tidak dapat di pilih untuk kedua kalinya
g) Aggota sidang MP musang terdiri dari anggota pleno pengurus P3C dan 15 (lima belas) orang anggota MP MUSANG
h) Anggota MP MUSANG terdiri dari pengrus P3C sebelumnya dan anggota P3C
i) Masa jabatan MP MUSANG di sesuaikan dengan masa jabatan pengurus P3C

Pasal 17
MP MUSANG
a) Mengawasi pelaksanaan ketentuan-ketentuan MUSANG yang dijalankan pengurus P3C.
b) Memeberikan usul-usul kepada pengurus P3C untuk kelancaran pelaksanaan ketetapan-ketetapan musang baik di minta maupun tidak di minta.
c) Menyampaikan hasil pengawasan ketetapan MUSANG.
d) Menyiapkan draf materi MUSANG.

Pasal 18
Tata Tertib Pemilihan MP Musang
a) Anggota MP MUSANG sebanyak 5 (lima) orang ditetapkan oleh sidang pleno 1 pengurus P3C berdasarkan calon yang di usulkan oleh Anggota.
b) Jumlah calon yang diajukan oleh ayat (a) adalah 2×5 orang.
c) Pemilihan calon-calon anggota MP MUSANG dilaksanakan setelah pemilihan Ketua Umum/Formatur dan Mide Formatur Pengurus P3C.
d) Bila kemudian ternyata ada calon-calon MP MUSAG di pilih sebagai Pengurus P3C, maka keangotaannya gugur dan diganti oleh urutan berikutnya yang dipilih oleh MUSANG.

Pasal 19
Persidangan MP MUSANG
a) Pimpinan MP MUSANG dipilih oleh MP MUSANG.
b) Sidang MP MUSANG sekurang-kurangnya 4 (empat) kali dalam satu periode.
c) Kordinator MP MUSANG di pilih dari Anggota MP MUSANG dan di tetapkan dalam sidang MP MUSANG.
d) Sebelum Kordinator

Pasal 20
Tata Kerja MP MUSANG
a) Tata kerja MP MUSANG diselenggarakan oleh kordinator MP MUSANG bersama MP linnya.
b) MP MUSANG terdiri dari komisi-komisi yang di sesuaikan dengan perbandingan kerja pengurus P3C.
c) Masing-masing komosi dipimpin oleh seorang ketua yang dipilih dari dan oleh anggota MP MUSANG

D. ALUMNI

Pasal 21
Alumni
a. Alumni P3C adalah anggota P3C yang telah habis masa keanggotaannya.
b. P3C dan alumni P3C memiliki hubungan historis, aspiratif dan emosional.
c. Alumni P3C berkewajiban tetap menjaga nama baik P3C, meneruskan misi P3C di medan perjuangan yang lebih luas dan membantu P3C dalam merealisasikan misinya

E. KEUANGAN DAN HARTA BENDA
Pasal 22
Pengelolaan Keuangan dan Harta Benda
a. Prinsip halal maksudnya adalah setiap satuan dana yang diperoleh tidak berasal dan tidak diperoleh dengan cara-cara yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
b. Prinsip transparansi maksudnya adalah adanya keterbukaan tentang sumber dan besar dana yang diperoleh serta kemana dan berapa besar dana yang sudah dialokasikan.
c. Prinsip bertanggungjawab maksudnya adalah setiap satuan dana yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan sumber dan keluarannya secara tertulis dan bila perlu melalui bukti nyata.
d. Prinsip efektif maksudnya adalah setiap satuan dana yang digunakan berguna dalam rangka usaha organisasi mewujudkan tujuan P3C.
e. Prinsip efisien maksudnya adalah setiap satuan dana yang digunakan tidak melebihi kebutuhannya.
f. Prinsip berkesinambungan maksudnya adalah setiap upaya untuk memperoleh dan menggunakan dana tidak merusak sumber pendanaan untuk jangka panjang dan tidak membebani generasi yang akan datang.
g. Uang pangkal dan iuran anggota bersifat wajib yang besaran serta metode pemungutannya ditetapkan oleh Pengurus.
h. Uang pangkal dialokasikan sepenuhnya untuk organisasi.
i. Iuran anggota dialokasikan dengan proporsi 80 persen untuk organisasi, 20 persen untuk pengurus.

BAB III
LAGU DAN LAMBANG DAN ATRIBUT ORGANISASI

Pasal 23
Lagu, lambang dan atribut-atribut Organisasi lainnya di atur dan di tetapkan oleh MUSANG

Pasal 24
Lagu

Pasal 25
Lambang

BAB IV
PERUBAHAN ANGGARAN RUMAH TANGGA

Pasal 26
Perubahan Anggaran Rumah Tangga
a. Perubahan Anggaran Rumah Tangga hanya dapat dilakukan pada MUSANG.
b. Perubahan Anggaran Rumah Tangga hanya dapat dilakukan melalui MUSANG yang pada waktu perubahan tersebut akan dilakukan dan disahkan dihadiri oleh 2/3 peserta MUSANG dan disetujui oleh minimal 50%+1 jumlah peserta utusan yang hadir.

BAB V
PEMBUBARAN

Pasal 27
Pembubaran P3C hanya dapat dilaksanakan oleh MUSANG

Pasal 28
Keputusan pembubatan P3C sekurang-kurangnya harus disetujui oleh 2/3 peserta MUSANG

Pasal 29
Harta benda P3C sesudah di bubarkan harus disodakohkan

BAB VI
ATURAN TAMBAHAN

Pasal 30
Struktur kepemimpinan P3C berkewajiban melakukan sosialisasi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga kepada seluruh anggota P3C.

Pasal 31
a. Pasal-Pasal tentang Rangkap Anggota/Jabatan dan Sanksi Anggota dalam Anggaran Rumah Tangga dijabarkan lebih lanjut dalam Penjelasan Rangkap Anggota/Jabatan dan Sanksi Anggota.
b. Pasal-pasal tentang Struktur Kepemimpinan dalam ART dijabarkan lebih lanjut dalam Pedoman Kepengurusan P3C, Pedoman Administrasi Kesekretariatan, dan Penjelasan Mekanisme Pengesahan Pengurus P3C.
c. Pasal-pasal tentang Badan Khusus dalam ART dijabarkan lebih lanjut dalam Pedoman tentang Lembaga Pengembangan Profesi, Pedoman Badan Pengelola Latihan dan Kode Etik Pengelolaan Latihan, dan Pedoman Balitbang.
d. Pasal-pasal tentang Keuangan dan Harta Benda dalam ART dijabarkan lebih lanjut dalam Pedoman Keuangan dan Harta Benda P3C.

PENJELASAN PASAL 9
ANGGARAN RUMAH TANGGA (ART)
PAGUYUBAN PEMUDA PEMUDI CIBANGKONG(P3C)
TENTANG TATA CARA SCORSING/PEMECATAN

I. Skorsing dan Pemecatan
1. Angota Dapat di Sekor atau di Pecat:
a) Bertindak dengan ketentuan-ketentuan yang telah di tetapkan oleh P3C
b) Bertindak merugikan atau nama baik Organisasi
c) Angota yang di pecat/skorsing, dapat melakukan pembelaan dalam forum yang di tunjuk untuk itu
2. Tata Cara Skorsing/Pemecatan
d) Tuntutan skorsing/pemecatan dapat diajukan oleh anggota
e) Tuntutan skorsing/pemecatan dapat diajukan oleh pengurus
f) Tuntutan skorsing/pemecatan dapat diajukan dengan satu perigatan terlebih dahulu
g) Dalam hal-hal luar biasa skorsing/pemecatan secara langsung oleh anggota melewati Pengurus
h) Pengurus dapat melakukan skorsing/pemecatan secara langsung oleh pengurus.
i) Skorsing/pemecatan pengurus terlebih dahulu dilakukian pencabutan jabatan sebagai pengurus oleh instansi yang berwenang.

II. Pembelan Diri
1. Ketua Umum
a) Anggota yang dikenakan skorsing/pemecatan diberikan kesempatan memebela diri dalam forum MUSANG.
b) Apabila yang bersangkutan tidak menerima keputusan pleno, maka bisa naik banding dalam musang sebagai pembela diri.

2. Komosi Khusus Pembelaan Diri
a) Komisi khusus adalah komisi untuk pembelaan diri yang dimuat berdasrkan pengaduan, penolakan/ketidak setujuan atas skorsing/pemecatan.
b) Komisi ini merupakan hak yang bersdangkutan dan bersifat intern Organisasi
c) Komisi ini di selenggarakan oleh Pengurus dan Anggota
d) Komisi ini ndi selenggarakan dalam komisi khusus seperti pleno dan MUSANG

3. Syarat Syahnya Komisi Khusus Adalah
a) berdasarkan permintaan/pengaduan dari yang bersangkutan di tujukan kepada pengurus.
b) Berdasarkan permintan/pengaduan dari yag bersangkutan dan di tujukan kepada peserta musang.
c) Surat permintaan/pengaduan paling lambat 2 (dua) minggu sebelum musang.
d) Di pimpin oleh seorang presidium sidang musang yang di Bantu oleh sekretaris umum

4. Tugas Pimpinan Komisi Khusus
a) Mengambil sumpah seluruh peserta/saksi hidup, degan mengucapkan Demi Alllah.
b) Mendengarkan keterangan-keterangan dari semua unsur yang hadir dalam komisi
c) Mengajukan saksi-saksi, fakta-fakta apabila di perlukan/diminta oleh unsur-unsur yang hadir.
d) Mengambil keputusan secara adil dan jujur tanpa di pengaruhi oleh siapapun kecuali tunduk terhadap AD/ART pedoman-pedoman organisasi dan peraturan lainnya disertai rasa tanggugjawab kepada Tuhan YME.

5. Keputusan
a) Komisi khusus di sahkan oleh MUSANG dengan persetujuan 1/3 dari jumlah peserta MUSANG.
b) Apabila keputusan komisi khusus MUSANG tidak tercapai maka persoalan tersebut dapat di bawa ke forum MUSANG melalui pengurus untuk naik banding dengan di setai Rekomendasi Anggota komisi.

III. PENUTUP
Prosedur ini di lakukan penyelesaian secara musyawarah dengan berdasarkan ukhuwah islamiyah dalam menghasilkan keputusan

Wasalamu`alaikum Wr. Wb.

KERANGKA TEORITIS

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah                  

Di Indonesia hubungan antara sektor pertanian dengan pembangunan nasional pada dasarnya merupakan hubungan yang saling mendukung. Pembangunan Nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, sedangkan mayoritas masyarakatnya hidup di pedesaan dengan jumlah terbesar bermata pencaharian di sektor pertanian. Salah satu tujuan Pembangunan Nasional lebih diarahkan pada upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan melalui pembangunan sektor pertanian.[1]

Daerah pedesaan di Jawa Tengah merupakan wilayah yang memiliki potensi alam yang besar, akan tetapi potensi yang besar itu hanya sebagian kecil yang telah dikembangkan menjadi aktivitas perekonomian. Penduduk pedesaan Jawa Tengah lebih banyak tertuju pada sektor primer, sehingga lebih banyak kegiatan mengolah tanah untuk kegiatan pertanian. Sementara produksi alam lainnya belum banyak dimanfaatkan, kondisi ini menyebabkan besarnya ketergantungan masyarakat kepada keadaan alam. Suatu desa memiliki tanah yang subur dengan pengairan yang lebih, maka dapat dipastikan kalau secara ekonomi penduduk desa itu ekonominya lebih baik. Sebaliknya apabila lingkungan alamnya kurang menunjang, pertaniannya kurang subur, maka ekonomi penduduk desa dapat dipastikan sebagian masyarakat desa masih hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan.[2] Penyebab dari permasalahan (kemiskinan) adalah kondisi alam desa dan manusianya sendiri. Secara geografis kondisi suatu desa, tanahnya subur tetapi belum diolah secara maksimal karena penduduknya yang jarang dan berpindah-pindah. Ada juga suatu desa yang kurang subur tetapi penduduknya padat sehingga menimbulkan berbagai permasalahan. Dari berbagai permasalahan yang kompleks, pemerintah berusaha mengatasi permasalahan tersebut dengan tujuan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang terjadi di pedesaan, disamping mengurangi kesenjangan sosial antara masyarakat desa dengan masyarakat kota. Pembangunan itu sendiri merupakan rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan berencana yang dilakukan secara sadar oleh masyarakat bersama pemerintah menuju modernisasi dalam rangka pembinaan bangsa.[3]

Masyarakat desa dalam kehidupan sehari-harinya menggantungkan pada alam. Alam merupakan segalanya bagi penduduk desa, karena alam memberikan apa yang dibutuhkan manusia bagi kehidupannya. Mereka mengolah alam dengan peralatan yang sederhana untuk dipetik hasilnya guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Alam juga digunakan untuk tempat tinggal.[4] Seperti diketahui masyarakat pedesaan sering diidentikkan sebagai masyarakat agraris, yaitumasyarakat yang kegiatan ekonominya terpusat pada pertanian. Sektor ini belum bisa melahirkan bermacam pekerjaan, untuk itu mereka tidak bisa mengandalkan pendapatan dari hasil pertanian. Sektor ini merupakan sektor penting dalam perekonomian kebanyakan negara berkembang. Hal ini dapat dilihat pada peranannya dalam menciptakan pendapatan nasional, walaupun besar peranan sektor pertanian di negara berkembang pada taraf permulaan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Namun perhatian pemerintah untuk mengadakan perubahan dibidang perikanan sangat terbatas. Ada kecenderungan untuk mengabaikan sektor ini hal ini bersumber pada pandangan yang meragukan kemampuan sektor perikanan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi.[5] Pemerintah menitikberatkan pembangunan pada sektor ekonomi khususnya ekonomi pertanian dengan tujuan meningkatkan produksi pertanian dan perekonomian masyarakat sekaligus peningkatan pembangunan desa dalam bidang kependudukan ditekankan sekecil mungkin angka kelahiran dengan keluarga berencana. Pembangunan pedesaan dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya. Pembangunan pedesaan mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat pedesaan yang terdiri dari berbagai sektor serta program yang saling berkaitan. Pembangunan tersebut dilakukan oleh masyarakat dengan bimbingan dan bantuan dari pemerintah melalui departemen dengan aparatnya di daerah. Selanjutnya pembangunan pedesaan dilakukan untuk meletakkan dasar pembangunan nasional yang sehat dan kuat. Pedesaan merupakan landasan ekonomi, politik budaya, serta pertahanan dan keamanan.[6]

            Desa Jimbaran di Kecamatan Bawen merupakan desa yang memiliki ciri khas kondisi alamnya sama dengan desa-desa lain di wilayah Kabupaten Semarang. Sejak tahun 1995 penduduk Desa Jimbaran telah mengembangkan usaha pemancingan ikan.[7] Hal ini karena peranan dari Dinas Perikanan dan Pariewisata Kabupaten Semarang dalam mengembangkan desa Jimbaran menjadi desa yang mandiri. Usaha pemancingan di desa Jimbaran memiliki konstribusi yang besar bagi perekonomian desa, sehingga kegiatan ini berdampak pada peningkatan pendapatan, penyerapan tenaga kerja, jaringan ekonomi dan lain-lain. Penduduk desa Jimbaran sekarang telah memiliki taraf hidup yang baik, kondisi ini dibuktikan dengan pembangunan jalan beraspal, kondisi rumah penduduk yang membaik, pembangunan sarana ibadah,  dan lain-lain.[8]

            Kondisi Desa Jimbaran sekarang berbeda dengan periode sebelum tahun 1990. sebelum tahun 1990 kondisi masyarakat Desa Jimbaran taraf ekonominya masih rendah, sedangkan kondisinya sekarang jauh lebih maju. Peningkatan kondisi ekonomi terlihat dari membaiknya keadaan fisik desa, kekayaan penduduk dan lain-lain. Peningkatan di bidang sosial terlihat dari luasnya hubungan sosial ekonomi penduduk, kemajuan pendidikan, organisasi, wawasan dan lain-lain. Sejak tahun 1995 penduduk Desa Jimbaran berusaha keras meningkatkan taraf hidupnya dengan mengembangkan potensi alam yang ada semaksimal mungkin, sehingga berakibat bertambah baiknya kondisi sosial ekonominya sekarang. Dibandingkan desa-desa lain di Kecamatan Bawen, Desa Jimbaran memiliki keunggulan utama, yaitu adanya usaha kolam pemancingan.

Awal ide pengembangan usaha pemancingan ini adalah adanya pembinaaan dari Dinas Perikanan dan Dinas Perikanan Kabupaten Semarang mengenai pengembangan usaha perikanan, ide ini kemudian direalisasi dengan lomba memancing. Sejak itulah bisnis pemancingan di Desa Jimbaran mulai berkembang.[9]

Keberadaan kolam pemancingan ini sanagat membantu dalam meningkatkan pendapatan penduduk Desa Jimbaran dan menopang kegiatan ekonomi penduduk. Usaha kolam pemancingan seperti ini tidak dimiliki desa lain disekitar Jimbaran, karena penduduk sekitar sebagian besar masih menggantungkan penghidupanya dari hasil pertanian. Hal inilah yang membedakan Jimbaran dengan desa-desa disekitarnya, sehingga di saat terjadi penurunan hasil pertanian, penduduk Desa Jimbaran lebih kuat dalam mempertahankan ekonominya. Keberadaan kolam pemancingan juga didukung sepenuhnya oleh pemerintah. Dengan banyaknya kolam pemancingan ikan sekarang menyebabkan desa Jimbaran menjadi desa yang banyak menyediakan kesempatan kerja dan menjadi salah satu alternatif tujuan wisata di Kabupaten Semarang.

Berdasarkan latar belakang tersebut, permasalahan yang akan diangkat dalam tulisan ini adalah:

  1. Faktor-faktor apa yang mendorong kemajuan sosial ekonomi Desa Jimbaran 1995-2005?
    1. Bagaimana perkembangan usaha kolam pemancingan di Desa Jimbaran Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang?
    2. Apa dampak usaha sebelum dan sesudah adanya kolam pemancingan bagi kehidupan sosial ekonomi penduduk Desa Jimbaran 1995-2005?

 

B. Ruang Lingkup

 

Setiap penelitian dan penulisan sejarah diharuskan untuk menentukan batasan-batasan topik yang akan menjadi pokok pembahasan, dengan maksud agar pembahasan lebih praktis dan mempunyai kemungkinan untuk dikaji secara empiris, dan dapat dipertanggungjawabkan secara metodologis.[10] Batasan-batasan yang dimaksud adalah ruang lingkup spasial,  ruang lingkup temporal, dan ruang lingkup keilmuan. Ruang lingkup juga membantu agar tidak terjerumus kedalam pembahasan yang terlalu luas.[11]

Ruang lingkup spasial yang diambil penulis adalah Desa Jimbaran Kecamatan Bawen, maka penelitian ini termasuk sejarah lokal. Penulisan tingkat lokal dalam sejarah adalah penulisan kesan masa lalu dari kelompok masyarakat yang pada tempat atau geografis terbatas.[12] Dipilihnya desa ini sebagai daerah penelitian, karena berkembangnya usaha kolam pemancingan di Desa Jimbaran dapat dipakai salah satu perkembangan desa yang miskin menjadi desa yang maju. Usaha penggalian potensi yang ada telah berhasil meningkatkan taraf hidup penduduknya, sehingga perubahan-perubahan yang terjadi dibidang sosial ekonomi juga lebih menarik untuk dikaji.

Lingkup temporal pada penelitian ini adalah tahun 1995 sampai 2005. Tahun 1995 diambil karena merupakan awal ide pengembangan usaha pemancingan ini adalah adanya peranan dari Dinas Pariwisata dan Dinas Perikanan Kabupaten Semarang mengenai pengembangan usaha perikanan, ide ini kemudian direalisasi dengan lomba memancing. Sejak itulah bisnis pemancingan di Desa Jimbaran mulai berkembang, sedangkan tahun 2005 dipilih sebagai batas akhir penelitian karena kurun waktu sepuluh tahun sudah tampak berbagai perkembangan yang terjadi di Desa Jimbaran. Hal ini dapat dilihat dari wujud fisik yang telah dilakukan berupa bertambahnya jumlah pengusaha kolam pemancingan, pembangunan jalan beraspal, dan pembangunan masjid. Pengaruh dari pembangunan ini terutama dapat dilihat pasda perubahan di bidang sosial ekonomi.[13]

Lingkup keilmuan yang diambil penulis adalah sejarah sosial ekonomi. Sejarah sosial ekonomi adalah sejarah yang mengkaji perkembangan sosial ekonomi masyarakat dengan menguraikan gajala-gejala yang terdapat di sekitar permasalahan ekonomi masa lalu dan masa kini.[14] Hal ini mengingat fokus kajiannya melingkupi perubahan sosial masyarakat di pedesaan. lingkup keilmuan skripsi ini termasuk dalam kategori sejarah sosial ekonomi. Seluruh aspek sosial yang menjadi obyek penelitian penulis, baik itu dalam bidang interaksi yang terjadi dalam lingkungan masyarakat, struktur kelembagaan, dan lain sebagainya.

 

C. Tinjauan Pustaka

 

Sebagai acuan untuk menganalisa permasalahan dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa buku. Pertama Djoko Suryo, R.M. Soedarsono dan Djoko Soekiman yang berjudul Gaya Hidup Masyarakat Jawa di Pedesaan.[15] Antara lain membahas tentang kehidupan sosial ekonomi dan dinamika masyarakat Pedesaan Jawa selama periode 1900-1930 an. Bagi masyarakat pedesaan Jawa ditandai dengan adanya perubahan sosial yang cepat. Berbagai faktor telah menyebabkan keketatan (regidity) stuktur sosiaal desa yang tradisional dan kecenderungan desa yang semakin melepas ikatan komunalitasnya. Perkenalan ekonomi uang telah mengubah berbagai hubungan kontrak yang bersifat komersial. Perubahan tersebut melandasi perubahan yang lebih mendalam pada masa berikutnya. Ketimpangan-ketimpangan yang muncul di pedesaan telah menunjukkan bahwa di daerah pedesaan mulai terjadi pergeseran-pergeseran kegiatan, dari kegiatan disektor pertanian kesektor non pertanian. Keadaan ini menunjukkan bahwa di pedesaan mulai timbul berbagai ragam jenis mata pencaharian atau pekerjaan, yang tidak lagi bergantung pada usaha pertanian dan pemilikan tanah. Pada akhir-akhir ini terjadi pergeseran-pergeseran baru atau kecenderungan baru yang terjadi di daerah pedesaan yang menggambarkan, bahwa desa agraris pada masa sekarang mulai tidak utuh lagi, karena adanya pergeseran ke arah orientasi non agraris. Alasan sifat dinamis dan elastis dari masyarakat pedesaan menunjukkan keselarasan pertemuan unsur-unsur budaya dari dalam dan budaya dari luar, sehingga masih terwujud adanya kelangsungan dan perubahan dalam kehidupan sosial budaya di pedesaan. Dapat dikatakan bahwa satu pihak terjadi pembaharuan, namun tidak berarti nilai-nilai atau unsur-unsur budaya tradisional lenyap sama sekali. Dilain pihak ada kecenderungan bahwa unsur-unsur budaya lama masih dapat hidup dalam taraf tertentu.

Relevansi buku tersebut dengan permasalahan yang ditulis cukup erat. Dalam permasalahan yang dibahas oleh penulis dipaparkan bagaimana peranan dan dampak adanya usaha kolam pemancingan terhadap masyrakat desa Jimbaran.

Kedua yang dijadikan acuan adalah karangan B.N. Marbun yang berjudul Pembangunan Desa.[16] Pustaka ini berisi tentang pembangunan desa harus dimulai dengan perbaikan aparat pelaksana, yaitu orang yang merealisasi rencana serta mampu mewujudkan menjadi manfaat dan kenikmatan bagi orang desa melalui proses yang wajar. Pembangunan desa dapat berhasil dengan tersedianya sumber tenaga manusia, modal dan sumber daya lainnya, serta adanya organisasi yang mampu mewujudkan rencana menjadi hasil. Pembukaan Industri pada dasarnya guna menyerap tenaga kerja, namun harapan ini tidak terpenuhi. Karena pada umumnya industri yang sudah ada intensif modal, tidak banyak menyerap tenaga manusia. Praktek pembangunan industri sekarang tidak menolong pembangunan desa dan bahkan menambah beban baru yaitu arus urbanisasi.

Pembukaan lokasi industri menengah dan kecil di kota dan desa secara otomatis akan mendekatkan desa dengan kota atau sebaliknya, sehingga industrialisasi ini akan menyerap tenaga kerja dari desa maupun kota tersebut. Kebijakan ini mempunyai tujuan mengurangi beban urbanisasi dan sekaligus menjembatani jurang pemisah antara desa dengan kota. Terserapnya tenaga kerja yang semula sebagai buruh tani dari desa ke industri menengah dan kecil merupakan pemecahan masalah pembangunan desa. Kurangnya jumlah areal pertanian diantara tuan tanah dan petani  merupakan biang keladi dari penderitaan para petani di desa. Merealisasi pembangunan pertanian yang industrial dan produktif, digariskan suatu kebijaksanaan agar pemerintah menetapkan harga patokan padi dan beras sesui dengan harga dalam pasar internasional. Selain itu perlu dibuka industri kerajinan dan industri lainnya.

Penelitian ini sangat relevan dengan permasalahan yang ingin dibahas dalam skripsi ini, selain digunakan sebagai sumber karena obyek yang dibahas sama dengan skripsi ini, penelitian ini juga memberikan gambaran awal tentang pengembangan desa Jimbaran.

Ketiga adalah karya Daniel Lerner dalam bukunya Memudarnya Masyarakat Tradisional.[17] Buku ini menjelaskan tentang proses perubahan di masyarakat tradisional ke masyarakat modern pada masing-masing negara cenderung mempunyai percepatan yang berbeda. Hal ini tergantung pada latar belakang kondisi sosial-ekonomi, budaya dan politik dari masing-masing negara. Proses memudarnya masyarakat tradisional dimulai sejak dilaksanakannya modernisasi pembangunan pedesaan terutama dibidang pertanian. Dari pertanian tradisional ke pertanian modern telah menghasilkan kemajuan. Seperti diperkenalkannya teknologi pertanian baru menggeser cara bertani konvensional sehingga dapat diperoleh hasil panen yang lebih baik.

Relevansi buku ini dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah tahap transisi masyarakat tradisional ke masayarakat modern, dengan ditandai perubahan dalam aspek kehidupan ekonomi, politik, sosial, ekonomi dan budaya. Buku ini juga membahas kecepatan perubahan dalam masing-masing bidang kehidupan baik ekonomi, politik, sosial, serta budaya..

Buku ini relevan sekali karena terdapat pola yang kurang lebih sama yaitu adanya perkembangan usaha / industri merupakan jalan keluar dari masalah terbatasnya kesempatan kerja disektor pertanian.

Keempat adalah karya St. Sutrisno dalam Suharno, Mantan Tapol yang Kini Menjadi ”Pahlawan”[18]. Artikel ini mewnjelaskan tentang profil Suharno, petani kecil yang pernah dibuang ke Pulau Nusa Kambangan sebagai tahanan politik (Tapol) itu, bisa mengubah nasib kampungnya yang dulunya ibarat tidak pernah dilirik orang, kini menjadi daerah tujuan wisata kuliner paling ramai di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Sekitar tahun 1965, tanpa proses pengadilan, Suharno dijebloskan ke Nusa Kambangan, sebuah pulau kecil di sebelah selatan pulau Jawa, pulau yang memang dikenal sebagai tempat pembuangan tahanan politik, khususnya mereka yang dituduh terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI), meskipun belum tentu bisa dibuktikan kebenarannya. Maklum, saat itu PKI dinyatakan sebagai partai terlarang oleh rezim Suharto. Setelah sekitar tiga tahun berada di Nusa Kambangan, Suharno berhasil kembali dan menjalani kehidupan ”normal”-nya di kampung halamannya, Dusun Blater, Kelurahan Jimbaran, Kecamatan Bawen Ceritanya mulai berubah ketika tahun 1995, Dinas Perikanan Kabupaten Semarang melakukan penyuluhan dan pembinaan pemeliharaan ikan. Maka dibentuklah kelompok perikanan Ngudi Mulyo. Kelompok tersebut diberi bantuan bibit ikan dan perbaikan kolam. Meskipun tidak menjabat sebagai ketua kelompok, Suharno bisa dibilang paling getol mengupayakan keberhasilan kelompok ini. Maklum, awalnya kelompok tersebut menderita kerugian, maka Suharno pun bekerja keras untuk bisa membuktikan bahwa kelompok perikanan tersebut memiliki masa depan. Kini keberhasilan sudah bisa dinikmati tidak hanya oleh keluarga Suharno, tetapi juga oleh penduduk setempat. Kampung di dekat daerah wisata Bandungan, yang dulunya ibarat tidak pernah dilirik orang itu kini menjadi daerah wisata kuliner paling ramai di Kabupaten Semarang, khususnya di hari Sabtu, Minggu dan hari libur lainnya. Kini, di sana terdapat 15 kolam pemancingan, tiga di antaranya adalah milik Suharno. Omzet dari tiga kolam tersebut mencapai Rp. 100 juta lebih per bulan. Dengan asumsi pendapatan kolam yang lain sama, maka total omzet mereka bisa mencapai Rp. 500 juta/bulan. Belum lagi pemasukan dari parkir sepeda motor dan mobil yang mencapai tidak kurang dari Rp. 3 juta/bulan. Sedangkan hasil retribusi mobil yang bisa disumbangkan ke kampung mencapai Rp. 700.000,- lebih per bulan. Pemasukan ini dipakai untuk pembangunan kampung, di antaranya untuk pengaspalan jalan dan perawatannya. Berkat kerja keras Suharno dan rekan-rekannya di kelompok perikanan Ngudi Mulyo-lah Kampung Blater yang dahulu ibarat tidak pernah dilirik orang itu kini menjadi kampung yang sangat asri, ramai, mandiri, dan menjadi kampung tujuan wisata banyak orang untuk mancing, menikmati pecel lele, gurami bakar dan sebagainya. Meskipun perannya yang sangat besar terhadap kemajuan kampung ini, dan dia barangkali bisa disebut sebagai ”Pahlawan”, tetapi Suharno tetap merendah, sebagaimana disampaikan putra sulungnya berikut ini: ”Semua tidak lepas dari bantuan dan penyuluhan dari Dinas Perikanan Kabupaten Semarang. Khususnya Bapak yang fotonya ada bersama Bapak saya itu,” katanya.

 

 

D. Kerangka Teoritis dan Pendekatan

Dalam penelitian sejarah diperlukan peralatan berupa pendekatan yang relevan untuk membantu mempermudah usaha dalam mendekati realitas masa lampau.[19] Guna mempertajam analisa dalam permasalahan ini digunakan pendekatan ilmu sosial yaitu ilmu Sosiologi dan Ekonomi. Pendekatan Sosiologi ini digunakan untuk mengetahui kondisi sosial masyarakat dan memahami kelompok sosial khususnya berbagai macam gejala kehidupan masyarakat.[20]

Penelitian sejarah tidak semata-mata bertujuan menceritakan kejadian, tetapi bermaksud menulis kejadian itu dengan mengkaji sebab-sebab kondisi lingkungan konteks sosial budaya. Dalam membuat analisis sejarah diperlukan suatu kerangka pemikiran atau kerangka referensi yang mencakup pelbagai konsep dan teori yang masih dipakai dalam membuat analisis itu.[21]

Secara konseptual pengertian perkembangan adalah suatu proses evolusi dari yang sifatnya sederhana kearah sesuatu yang lebih kompleks melalui berbagai taraf diferennsiasi yang sambung menyambung. Dimulai dari perubahan-perubahan yang ditelusuri, semuanya itu ada proses transformasi dari yang homogen ke heterogen dan ada faktor-faktor yang mempengaruhi.[22]

Dalam sosiologi, istilah perkembangan mencakup suatu proses perubahan yang berjalan terus menerus, terdorong oleh kekuatan-kekuatan, yakni yang berasal dari dalam maupun luar masyarakat itu sendiri dan mempunyai variabel-variabel sebagai latar belakang.[23]

Suatu proses perubahan sosial dapat terjadi secara sengaja dan tidak sengaja. Perubahan yang disengaja adalah perubahan yang telah direncanakan sebelumnya oleh anggota masyarakatnya. Perubahan yang tidak disengaja adalah perubahan yang terjadi diluar pengawasan masyarakat dan menimbulkan akibat yang tidak disangka sama sekali.[24] Kita sering menyebut desa untuk menunjuk pada suatu wilayah administrasi terkecil yang penduduknya, sebagian besar menggantungkan hidup dari usaha pertanian. Karakteristik umum masyarakat desa adalah kemiskkinan dan keterbelakangan yang disebabkan beberapa hal, yaitu; pendapatan yang rendah, antara kesenjangan yang dalam antara yang kaya dan miskin, yang miskin adalah mayoritas, dan partisipasi rakyat yang minim dalam usaha-usaha pembangunan yang dilakukan pemerintah.[25] Masyarakat desa merupakan persekutuan hidup dengan segala keteraturan dalam tata kehidupan dan penghidupan. Salah satu fungsi utama sosial ekonomi masyarakat pedesaan di Indonesia adalah melakukan kegiatan berbagai produksi, terutama sektor pertanian, dengan orientasi hasil produksinya untuk memenuhi kebutuhan pasar, baik ditingkat desa sendiri atau tingkat lain yang lebih luas. Dengan demikian mudahlah dimengerti, apabila kegiatan utamanya dalam kegiatan pengolahan dan pemanfaatan lahan-lahan pertanian, karena fungsi sosial ekonomi utama masyarakat pedesaan seperti hal tersebut di atas, maka sumber daya fisik utama yang paling penting dalam kehidupan masyarakat pedesaan tersebut adalah tanah atau lahan pertanian.[26] Kolam pancing adalah suatu usaha yang menyediakan fasilitas untuk memancing ikan dan dapat dilengkapi penyediaan jasa pelayanan makan dan minum.[27] Kondisi ini secara tidak langsung dipengaruhi oleh unsur-unsur eksternal sebagai akibat dari perubahan masyarakat yang terjadi dalam segala segi kehidupan. Perubahan itu juga akibat dari adanya inovasi di bidang seni dan ekonomi yang merupakan proses perubahan tenaga kerja, desain-desain, manajemen dan penggunaan teknologi baru.[28] Usaha kolam pemancingan merupakan alternatif usaha dalam mengatasi persoalan ekonomi. Usaha kolam pemancingan merupakan usaha yang sesuai dengan kondisi alam yang ada dan kemampuan penduduk. Ini berarti masyarakat Desa Jimbaran telah menggabungkan aset pembangunan, sebab pembangunan memerlukan aset pokok, baik sumber daya alam, maupun sumber daya manusia.[29]

Menurut Keesing, lazimnya suatu kegiatan yang dilakukan masyarakat untuk menopang kehidupannya merupakan suatu pilihan yang melibatkan proses-proses pengambilan keputusan dalam menghadapi dunianya, bahkan dengan cara yang paling praktis dan mempunyai tujuan langsung. Manusia tentu akan membuat pilihan, dan pilihan ini tergantung pada keadaan materi, kepentingannya dan sistem nilai.[30] Sehingga dapat terjadi pada suatu kawasan lingkungan yang sama dijumpai perbedaan-perbedaan kegiatan masyarakat.

Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya harus melakukan aktifitas ekonomi yang meliputi bidang yang berhubungan langsung dengan alam, seperti pertanian, perikanan, pertambangan dan sebagainya.[31] Secara tidak langsung bahwa sistem sosial budaya memiliki sifat pendorong maupun membatasi perilaku yang dapat berubah. Dapat dikatakan bahwa variasi-variasi atau keputuan-keputusan individu merupakan bentuk inovasi yang dapat memicu perubahan. Disamping itu unsur-unsur internal tersebut tidak dapat sepenuhnya terlepas, namun diwarnai oleh unsur-unsur eksternal yang berasal dari lingkungan di luar yang menyebabkan sistem perekonomian menjadi semakin kompleks. Unsur-unsur eksternal seperti kondisi sosial dan ekonomi yng berupa keadaan pendidikan, kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah. Kondisi sosial, ekonomi  dan lingkungan nampaknya menjadi sebab sebab perubahan yang kesemuanya merupakan variabel-variabel yang saling berkait dalam hubungannya dengan tumbuh dan berkembangnya usaha kolam pemancingan Desa Jimbaran.

Upaya yang dicapai oleh masyarakat Desa Jimbaran dalam mengembangkan usaha kolam pemancingan di desanya mendorong terjadinya perubahan sitem perekonomian dan akan menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan pada sistem hubungan atau kehidupan sosial. Faktor lingkungan sebagai unsur eksternal secara tidak langsung juga telah mempengaruhi aktivitas ekonomi  yang telah memicu munculnya pengembangan usaha pemancinngan itu sendiri. Pembuatan kolam ikan di pekarangan merupakan salah satu usaha pemanfaatan lahan secara intensif.[32] Lahan untuk kolam ikan yang dipakai penduduk Desa Jimbaran adalah lahan pekarangan, namun tidak menutup kemungkinan digunakannya lahan sawah. Aktivitas kerja yang dilakukan oleh masyarakat Jimbaran kiranya merupakan upaya pencapaian dalam pengembangan yang didukung oleh etos kerja yang tinggi.

Masyarakat dalam melakukan aktivitasnya didorong oleh motivasi kerja yang akan membuahkan hasil yang dapat dinikmati oleh masyarakat yang bersangkutan. Semua unsur tersebut diatas tampaknya menyebabkan berubahnya pola kehidupan sosial ekonomi masyarakat di Desa Jimbaran.

Proses perkembangan yang terjadi telah membawa dampak sosiologis dan ekonomis bagi masyarakat pendukungnya. Perubahan itu tidak hanya terjadi di kalangan buruh-buruhnya serta masyarakat luar. Itulah sebabnya dalam studi ini digunakan pendekatan sosiologis-ekonomis dengan menggunakan konsep sosial dan ekonomi. Kegunaan sosiologi adalah untuk menjelaskan sesuatu hal antar hubungan manusia itu sendiri, manusia dengan kelompok yaitu gejala-gejala sosial yang ada pada masyarakat dalam hubungan manusia itu sendiri, manusia dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok yaitu gejala-gejala sosial yang ada pada masyarakat dalam hubungan antar manusia itu sendiri yang berkecimpung dalam usaha kolam pemancingan.

Ekonomi dipakai untuk mengetahui perkembangan usaha dilihat dari faktor-faktor produksi dan hubungan interaksi antar masyarakat sebagai pengusaha, serta antara buruh dan majikan. Selain itu objek penelitian ekonomi akan diteliti hubungan aktivitas tingkah laku masyarakat yang berhubungan dengan penghasilan, hubungan antara produksi dan permintaan pasar (supply and demand).

Sesuailah kiranya apabila teori yang pinjam adalah dari disiplin sosiologi dan teori ekonomi, karena keduanya merupakan disiplin yang sangat erat hubunganya dengan aktivitas manusia dalam dalam hubungannya dengan perkembangan kolam pemancingan Desa Jimbaran.

Penelitian ini bersifat sosial ekonomi lokal, karena dengan membahas aspek sosial ekonomi diharapkan uraiannya akan mengena dengan memperhatikan aspek-aspek struktural, dengan melihat perubahan sosial yang diakibatkan oleh adanya pertumbuhan ekonomi masyarakat desa tersebut.

 

 

E. Metode Penelitian dan Penggunaan Sumber

Metode penelitian adalah suatu cara kerja untuk memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan kemudian penelitian untuk menyimpulkan, mengorganisasikan dan menafsirkan apa saja yang dapat dimanfaatkan dalam khasanah ilmu pengetahuan manusia.

Adapun tahapan-tahapan metode sejarah kritis adalah sebagai berikut

  1. Heuristik yaitu proses pengumpulan data dan menemukan sumber berupa dokumen-dokumen tertulis dan lisan dari peristiwa masa lampau sebagai sumber sejarah.

Adapun sumber sejarah tertulis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Surat kabar Suara Merdeka, Surat Kabar Kompas, Arsip Kecamatan Bawen mengenai data statistik yang memberikan gambaran tentang keadaan sosial dan ekonomi di Kecamatan Bawen. Metode yang dilakukan dalam mengumpulkan sumber tertulis adalah studi pustaka dilakukan sebelum ke lapangan untuk mengumpulkan sumber sekunder yang relevan dengan masalah yang dikaji. Studi arsip dilakukan untuk mengumpulkan sumber primer tertulis yang ada di Kantor Kecamatan Bawen, Kantor Kelurahan Jimbaran, Biro Pusat Statistik Kabupaten Semarang,  Bappeda Kabupaten Semarang .

Selain pengumpulan sumber tertulis, dilakukan juga pengumpulan sumber lisan. Metode ini dilaksanakan melalui wawancara terhadap sejumlah saksi sejarah di daerah penelitian meliputi tokoh-tokoh masyarakat, pejabat instansi yang mengetahui seluk-beluk peristiwa dan beberapa penduduk di kelurahan Jimbaran yang menjadi saksi awal pembangunan usaha kolam pemancingan. Metode sejarah lisan berguna untuk mengungkapkan keterangan-keterangan penting yang tidak ditemukan dalam sumber tertulis. Desa-desa kita tidak banyak yang menyimpan dokumen tua, kekurangan itu tentu harus diisi oleh sejarah lisan.[33] 

  1. Kritik Sumber, merupakan tahap kedua setelah sumber-sumber yang diperlukan terpenuhi. Kritik ekstern dilakukan untuk menguji sumber guna mengetahui keotentikan atau keaslian bahan dan tulisan dalam sumber tertulis. Kritik intern diperlukan untuk menilai isi sumber yang dikehendaki untuk mendapatkan kredibilitas sumber. Beberapa sumber yang penulis peroleh dan dilakukannya kritik sumber diperoleh beberapa sumber yang teruji keotentikannya, sebagian diantaranya  melalui kritik intern dan penelusuran sumber melalui wawancara dapat diketahui kebenaran isi sumber yang penulis kehendaki.
  2. Sintesa atau interpretasi yaitu tahapan untuk menafsirkan fakta serta membandingkannya untuk diceritakan kembali. Sumber yang telah diseleksi selanjutnya dilakukan tahapan sintesa untuk mengurutkan dan merangkaikan fakta-fakta serta mencari hubungan sebab-akibat.
  3. Historiografi atau Penulisan Sejarah yaitu proses mensintesakan fakta atau proses menceritakan rangkaian fakta dalam suatu bentuk tulisan yang bersifat historis secara kritis analitis dan bersifat ilmiah berdasarkan fakta yang diperoleh. Dengan demikian perkembangan yang terjadi pada masyarakat desa Jimbaran dapat terungkap secara kronologis.

 

F. SISTEMATIKA PENULISAN

 

Dalam sistematika penulisan disajikan pokok-pokok permasalahan yang akan dibahas yaitu :

Bab I Pendahuluan yang terdiri dari Latar Belakang dan Permasalahan, Ruang Lingkup, Tinjauan Pustaka, Kerangka Teoritis dan Pendekatan, Metode Penelitian dan Penggunaan Sumber, Sistematika Penulisan

Bab II Latar Belakang Desa Jimbaran sebelum adanya usaha kolam pemncingan. bab ini menjelaskan Kondisi Geografis, Kondisi Demografis, Kondisi Sosial Ekonomi dan Kondisi Sosial Budaya Masyarakat meliputi bidang pendidikan, agama dan kesehatan.

Bab III Perkembangan usaha kolam pemancingan desa Jimbaran Kecamatan Bawen tahun 1995-2005. perkembangan ini dibagi menjadi ; asal mula berdirinya usaha kolam pemancingan, perkembangan usaha kolam pemancingan tahun 1995-2005, yang meliputi; awal usaha kolam pemancingan, berkembangnya kolam pemancingan, munculnya warung makan ikan, berdirinya paguyuban pangudi mulyo.

Bab IV Pengaruh usaha kolam pemancingan terhadap Perkembangan Sosial dan Ekonomi Masyarakat desa Jimbaran Kecamatan Bawen tahun 1994-2004. Pengaruh terhadap bidang Ekonomi yaitu penyediaan lapangan pekerjaan dan peningkatan pendapatan masyarakat, sedangkan pengaruh terhadap bidang sosial berupa perubahan taraf hidup, perubahan status dan peranan dan solidaritas masyarakat.

 

Bab V  akan disajikan Penutup yaitu berupa kesimpulan dari pembahasan ini. Kesimpulan disini merupakan jawaban atas permasalahan dan pembahasan berupa faktor-faktor yang mendukung perkembangan usaha kolam pemancingan serta pengaruh yang ditimbulkan dari keberadaan usaha kolam pemancingan pada tahun 1995-2005.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1]Entang Sastraatmadja, Ekonomi Pertanian Indonsia: Masalah, Gagasan, dan Strategi, (Bandung: Bumi Angkasa, 1985), hlm. 35.

[2]Sri Saadah Soepono, et al, Corak dan Pola Kehidupan Sosial Ekonomi Pedesaaan: Studi tentang Kewiraswastaan Pada Masyarakat di Plered, (Jakarta: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan, 1995), hlm 1.

 

[3]Sondang P. Siagian, Administrasi Pembangunan, (Jakarta: Gunung Agung, 1974), hlm. 21.

 

[4]I. N. Beratha , Teknologi Desa, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1984), hlm.13.

                                                                        

[5]Sadono Soekirno, Beberapa Aspek Dalam Persoalan Pembangunan Daerah, (Jakarta: Lembaga Penerbit UI, 1985), hlm. 85.

[6]R. Bintarto, Interaksi Desa, Kota dan Permasalahannya, (Jakarta, 1989), hlm. 9.

 

[7]Kecamatan Bawen terdiri dari 12 Desa ; Asinan, Bawen, Doplang, Harjosari, Jimbaran, Kandangan, Lemahireng, Pakopen, Polosiri, Poncoruso, Samban, Sidomukti. Desa Jimbaran terdiri dari 4 Dusun ; Blater, Jimbaran, Krasak, dan Manggung.

 

[8]Wawancara dengan Suko Prayogo, 14 Desember 2008.

[9]Wawancara dengan Burhanudin Harahap, 11 Desember 2008.

[10]Taufik Abdullah, ed., Sejarah Lokal di Indonesia, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1985), hlm. 10.

 

[11]Koentjaraningrat, Metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta: Gramedia, 1977), hlm. 28.

[12]Koentjaraningrat , op.cit. , hlm. 15.

 

[13]Wawancara dengan Suko Prayogo, 14 desember 2008

[14]Winardi, Pengantar Sejarah Perkembangan Ilmu Ekonomi, (Bandung: Alumni, 1982), hlm. 50.

 

[15]Djoko Suryo, R.M. Soedarsono, Djoko Soekiman, Gaya Hidup Masyarakat Jawa di Pedesaan, (Jakarta: DEPDIKBUD Dirjen  Kebudayaan Proyek penelitian dan pengkjian kebudayaan Nusantara. 1985)

[16]B. N. Marbun, Proses Pembangunan Desa, (Jakarta: Erlangga, 1983)

[17]Daniel Lerner, Memudarnya Masyarakat Tradisional, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1983).

[18] St. Sutrisno, “Suharno, Mantan Tapol yang Kini Menjadi ”Pahlawan”, www.kabarindonesia.com

[19]Sartono Kartodirdjo, Pemikiran dan Perkembangan Historiografi: Suatu alternative (Yogyakarta: Gramedia, 1982), hlm.5.

 

[20]Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar,(Djakarta: PT Radja Grafindo, 1990), hlm. 395.

 

[21]Sartono Kartodirdjo, Penelitian Ilmu Sosial dalam Metode Sejarah, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993, hlm. 2.

[22]Soerjono Soekanto, Teori Sosiologi Tentang Perubahan Sosial, (Djakarta: Ghalia Indonesia, 1984), hlm.66.

 

[23]Mayor Polak, Sosiologi Suatu Pengantar Ringkas, ( Jakara: PT.Ikhtiar Baru Press, 1979), hlm.399-400.

 

[24]Soerjono Soekanto, Op.cit., hlm.90.

 

[25]Peter Hagul et. al, Pembangunan Desadan Lembaga SwadayaMasyarakat, (Jakarta: Yayasan Dian Desa, 1992), hlm. 4.

[26]Sri Saadah Soepono, op. cit, hlm. 1.

 

[27]Peraturan Daerah Kabupaten Semarang no. 31 tahun 2001 tentang Penyelengaraan Usaha Rekreasi dan Hiburan. Hlm. 7.

 

[28]Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: Aksara Baru, 1985, hlm. 256.

 

[29]Soekidjo Notoatmojo, Pengembangan Sumber Daya Manusia, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1992), hlm. 3.

 

[30]Roger M. Keesing, Antropologi Budaya: Suatu Perspektfi Kontemporer,  ( Jakarta: Erlangga,1989), hlm. 166-168.

 

[31]Ruslan H. Prawiro, Ekonomi Sumber Daya, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1982), hlm. 19.

[32]Supriyono, et.al, Membuat Pekarangan Produktif, (Surakarta: PT Trubus Agiwijaya, 1997), hlm. 15.

[33] Kuntowijiyo, Metodelogi sejarah, (Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya, 1994), hlm. 30.

PENGINDERAAN JAUH DENGAN SATELITI. Konsep Penginderaan jauh atau remote sensing adalah metoda untuk mengamati keadaan suatu objek atau kumpulan objek yang terdapat permukaan bumi dari jarak jauh tanpa mendatangi langsung objek atau kumpulan objek tersebut. Untuk itu digunakan kamera yang terpasang pada wahana ruang angkasa yang diluncurkan ke angkasa luar dan sering disebut sebagai satelit. Satelit merupakan suatu benda yang beredar mengelilingi suatu objek yang lebih besar, contohnya bumi yang merupakan satelit dari matahari, ataupun bulan yang selalu mengitari bumi. Bumi atau bulan merupakan satelit alami sedangkan wahana ruang angkasa yang diluncurkan manusia ke angkasa luar merupakan satelit buatan dan merupakan topik perkuliahan kita. Kamera yang dipasang pada satelit berfungsi sebagai indera penglihatan yang melakukan perekaman terhadap permukaan bumi pada saat satelit tersebut beredar mengitari bumi menurut garis orbit atau edarnya. Sensor yang ada pada kamera akan mendeteksi informasi permukaan bumi melalui energi radiasi matahari yang dipantulkan oleh permukaan keatas, data energi pantulan radiasi ini diolah menjadi gejala listrik dan data dikirim ke stasiun pengolahan satelit yang ada di bumi. Terdapat 7 komponen dalam penginderaan jauh yaitu: (1) Sumber cahaya matahari, (2) gelombang elektromagnetik yang sampai ke permukaan bumi (Ei= Incoming electromagnetic), (3) objek yang ada dipermukaan bumi, (4) gelombang electromagnetic yang dipantulkan (ER = Reflect electromagnetic) atau dikembalikan oleh permukaan bumi, (5) sensor yang ada di kamera yang terpasang pada satelit di ruang angkasa, (6) stasiun penerima dan pengolah data satelit dan (7) pengguna data citra satelit. Ketujuh komponen penginderaan jauh ini dapat dilihat pada Gambar 5.1. Suatu Ei yang sampai di permukaan bumi terdiri dari sinar tampak (visible light), sinar infra merah dekat (Near Infra Red / NIR) dan infra merah gelombang pendek (Short Wave Infra Red / SWIR). Komponen Ei yang sampai dipermukaan bumi akan terbagi atas ER (Reflect Electromagnetic), EA adalah gelombang elektromagnetik yang diserap (Absorp Electromagnetic), Ee gelombang elektromagnetik yang teremisi (Emission Electromagnetic) dan ET (Transmittant Electromagnetic) yaitu diteruskan. Skema peredaran dan interaksi gelombang elektromagnetik ini dapat dilihat pada Gambar 5.2. Komponen dari ER berasal dari spektrum cahaya tampak dan infra merah dekat. Sebagian dari Ei ada juga yang diserap (EA = Energy Adsorp) yang berada pada spektrum infra merah thermal. ET yang merupakan energy yang diteruskan akan berada pada spektrum daerah visibel biru dan hijau. Semakin besar energi yang diserap maka suhu objek yang naik pula yang mengakibatkan timbulnya radiasi emisi atau Ee yang semakin tinggi pula. Untuk ER tergantung kepada objek, semakin tinggi nilai ER semakin besar pantulan yang mengakibatkan semakin jelas kenampakan objek. Tidak semua sensor kamera dapat menerima Ee dan ER sekaligus. Sensor optis hanya dapat menerima ErR sedangkan Ee akan diterima oleh sensor thermal yang berada pada kisaran daerah inframerah thermal (Thermal Infra Red = TIR). Besarnya nilai persentase pantulan objek akan mencerminkan warna dari suatu objek. Untuk vegetasi akan terlihat pada spektrum cahaya tampak antara 0.4 – 0.7 μm, dengan nilai 0.4 – 0.5 μm untuk daun yang sehat yaitu pada kisaran warna biru dan hijau (sebagian besar gelombang elektromagnetik diserap oleh khlorofil) dan jika warna daun yang merah akan terlihat pada 0,65 μm. Persentase pantulan dari daerah yang tertutup vegetasi berkisar antara 5 – 50% tergantung kerapatan dan jenis vegetasi yang menutupi daerah tersebut Untuk tanah kering yang terbuka akan terlihat coklat abu-abu dengan pantulan berkisar antara 5 – 45%. Sedangkan air yang jernih spektrum cahayanya akan terdapat pada panjang gelombang 0.4 – 0.78 μm dengan pantulan yang rendah kurang dari 5%. Skema dari spektrum elektromagnetik dapat dilihat pada Gambar 5.3. Sistem penginderaan jauh didesain memiliki sifat multi aplikasi yaitu multi spektral, multi spasial dan multi temporal. Sifat multi spektral dari sistem penginderaan jauh dikarenakan sensor kamera satelit menggunanakan saluran penginderaan dua atau lebih pada saat yang bersamaan. Semakin banyak kanal atau saluran yang digunakan maka informasi yang didapat semakin banyak dan lengkap. Sifat multi spasial berarti sistem penginderaan jauh memiliki ketajaman (ketelitian) spasial sebanyak 2 atau lebih, sering juga disebutkan ketelitian spasial ini sebagai resolusi spasial. Jika resolusi spasial semakin tinggi maka semakin tinggi ketelitian citra yang berarti mempunyai skala yang semakin besar pula. Sedangkan sifat multi temporal berarti kemampuan sensor penginderaan jauh untuk melakukan pengulangan penyapuan suatu daerah tertentu pada waktu yang telah ditetapkan. Kembalinya satelit untuk menyapu suatu kawasan dapat pada periode 1 jam, 1 hari hingga 1 bulan berikutnya. Resolusi spasial dari citra satelit dapat dibagi 3 yaitu makro, sedang dan mikro dengan interpretasi deskripsi citra secara umum, agak rinci dan rinci. Resolusi spasial dikatakan makro jika pada suatu kawasan disebut mempunyai penutup lahan bervegatasi. Jika kawasan itu disebutkan mempunyai penutup lahan terdiri dari perkebunan, hutan atau sawah maka resolusi citra nya disebut sedang dan jika disebutkan suatu daerah mempunyai vegetasi hutan pinus, hutan jati, hutan bakau atau perkebunan kelapa sawit, maka resolusi spasialnya adalah mikro. Sistem sensor penginderaan jauh yang bekerja pada daerah sinar tampak (fotografi) disebut sebagai sensor optis. Adapun sensor yang bekerja pada daerah sinar inframerah disebut sebagai sensor thermal sedangkan yang bekerja pada gelombang mikro dikenal sebagai sensor radar. Masing-masing sensor mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Sensor optis dan thermal mudah digunakan dan diinterpretasikan tetapi hanya bekerja optimal pada keadaan ruang angkasa yang cerah tanpa ditutupi oleh awan, kabut atau hujan. Sensor optis dan thermal tidak mampu menembus hambatan ini. Untuk itu digunakan sensor radar.

I. Konsep

Penginderaan jauh atau remote sensing adalah metoda untuk mengamati keadaan suatu objek atau kumpulan objek yang terdapat permukaan bumi dari jarak jauh tanpa mendatangi langsung objek atau kumpulan objek tersebut. Untuk itu digunakan kamera yang terpasang pada wahana ruang angkasa yang diluncurkan ke angkasa luar dan sering disebut sebagai satelit. Satelit merupakan suatu benda yang beredar mengelilingi suatu objek yang lebih besar, contohnya bumi yang merupakan satelit dari matahari, ataupun bulan yang selalu mengitari bumi. Bumi atau bulan merupakan satelit alami sedangkan wahana ruang angkasa yang diluncurkan manusia ke angkasa luar merupakan satelit buatan dan merupakan topik perkuliahan kita.

Kamera yang dipasang pada satelit berfungsi sebagai indera penglihatan yang melakukan perekaman terhadap permukaan bumi pada saat satelit tersebut beredar mengitari bumi menurut garis orbit atau edarnya. Sensor yang ada pada kamera akan mendeteksi informasi permukaan bumi melalui energi radiasi matahari yang dipantulkan oleh permukaan keatas, data energi pantulan radiasi ini diolah menjadi gejala listrik dan data dikirim ke stasiun pengolahan satelit yang ada di bumi.

Terdapat 7 komponen dalam penginderaan jauh yaitu: (1) Sumber cahaya matahari, (2) gelombang elektromagnetik yang sampai ke permukaan bumi (Ei= Incoming electromagnetic), (3) objek yang ada dipermukaan bumi, (4) gelombang electromagnetic yang dipantulkan (ER = Reflect electromagnetic) atau dikembalikan oleh permukaan bumi, (5) sensor yang ada di kamera yang terpasang pada satelit di ruang angkasa, (6) stasiun penerima dan pengolah data satelit dan (7) pengguna data citra satelit. Ketujuh komponen penginderaan jauh ini dapat dilihat pada Gambar 5.1.

 

 

 

Suatu Ei yang sampai di permukaan bumi terdiri dari sinar tampak (visible light), sinar infra merah dekat (Near Infra Red / NIR) dan infra merah gelombang pendek (Short Wave Infra Red / SWIR). Komponen Ei yang sampai dipermukaan bumi akan terbagi atas ER (Reflect Electromagnetic), EA adalah gelombang elektromagnetik yang diserap (Absorp Electromagnetic), Ee gelombang elektromagnetik yang teremisi (Emission Electromagnetic) dan ET (Transmittant Electromagnetic) yaitu diteruskan. Skema peredaran dan interaksi gelombang elektromagnetik ini

dapat dilihat pada Gambar 5.2.

                                                     

      Komponen dari ER berasal dari spektrum cahaya tampak dan infra merah dekat. Sebagian dari Ei ada juga yang diserap (EA = Energy Adsorp) yang berada pada spektrum infra merah thermal. ET yang merupakan energy yang diteruskan akan berada pada spektrum daerah visibel biru dan hijau. Semakin besar energi yang diserap maka suhu objek yang naik pula yang mengakibatkan timbulnya radiasi emisi atau Ee yang semakin tinggi pula. Untuk ER tergantung kepada objek, semakin tinggi nilai ER semakin besar pantulan yang mengakibatkan semakin jelas kenampakan objek. Tidak semua sensor kamera

dapat menerima Ee dan ER sekaligus. Sensor optis hanya dapat menerima ErR sedangkan Ee akan diterima oleh sensor thermal yang berada pada kisaran daerah inframerah thermal (Thermal Infra Red = TIR).

Besarnya nilai persentase pantulan objek akan mencerminkan warna dari suatu objek. Untuk vegetasi akan terlihat pada spektrum cahaya tampak antara 0.4 – 0.7 μm, dengan nilai 0.4 – 0.5 μm untuk daun yang sehat yaitu pada kisaran warna biru dan hijau (sebagian besar gelombang elektromagnetik diserap oleh khlorofil) dan jika warna daun yang merah akan terlihat pada 0,65 μm. Persentase pantulan dari daerah yang tertutup vegetasi berkisar antara 5 – 50% tergantung kerapatan dan jenis vegetasi yang menutupi daerah tersebut Untuk tanah kering yang terbuka akan terlihat coklat abu-abu dengan pantulan berkisar antara 5 – 45%. Sedangkan air yang jernih spektrum cahayanya akan terdapat pada panjang gelombang 0.4 – 0.78 μm dengan pantulan yang rendah kurang dari 5%. Skema dari spektrum elektromagnetik

dapat dilihat pada Gambar 5.3.

 

Sistem penginderaan jauh didesain memiliki sifat multi aplikasi yaitu multi spektral, multi spasial dan multi temporal. Sifat multi spektral dari sistem penginderaan jauh dikarenakan sensor kamera satelit menggunanakan saluran penginderaan dua atau lebih pada saat yang bersamaan. Semakin banyak kanal atau saluran yang digunakan maka informasi yang didapat semakin banyak dan lengkap. Sifat multi spasial berarti sistem penginderaan jauh memiliki ketajaman (ketelitian) spasial sebanyak 2 atau lebih, sering juga disebutkan ketelitian spasial ini sebagai resolusi spasial. Jika resolusi spasial semakin tinggi maka semakin tinggi ketelitian citra yang berarti mempunyai skala yang semakin besar pula. Sedangkan sifat multi temporal berarti kemampuan sensor penginderaan jauh untuk melakukan pengulangan penyapuan suatu daerah tertentu pada waktu yang telah ditetapkan. Kembalinya satelit untuk menyapu suatu kawasan dapat pada periode 1 jam, 1 hari hingga 1 bulan berikutnya.

Resolusi spasial dari citra satelit dapat dibagi 3 yaitu makro, sedang dan mikro dengan interpretasi deskripsi citra secara umum, agak rinci dan rinci. Resolusi spasial dikatakan makro jika pada suatu kawasan disebut mempunyai penutup lahan bervegatasi. Jika kawasan itu disebutkan mempunyai penutup lahan terdiri dari perkebunan, hutan atau sawah maka resolusi citra nya disebut sedang dan jika disebutkan suatu daerah mempunyai vegetasi hutan pinus, hutan jati, hutan bakau atau perkebunan kelapa sawit, maka resolusi spasialnya adalah mikro.

Sistem sensor penginderaan jauh yang bekerja pada daerah sinar tampak (fotografi) disebut sebagai sensor optis. Adapun sensor yang bekerja pada daerah sinar inframerah disebut sebagai sensor thermal sedangkan yang bekerja pada gelombang mikro dikenal sebagai sensor radar. Masing-masing sensor mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Sensor optis dan thermal mudah digunakan dan diinterpretasikan tetapi hanya bekerja optimal pada keadaan ruang angkasa yang cerah tanpa ditutupi oleh awan, kabut atau hujan. Sensor optis dan thermal tidak mampu menembus hambatan ini. Untuk itu digunakan sensor radar.

 

 

KAWASAN ASIA TENGGARA DALAM DINAMIKA SEJARAH KEBUDAYAAN

/01/ Fajar Kebudayaan

Kawasan Asia Tenggara pada masa protosejarah sebenarnya merupakan wilayah yang dinamis dalam perkembangan kebudayaannya. Wilayah tersebut merupakan terminal migrasi bangsa yang datang dari arah Asia kontinental. Dalam upaya menempati wilayah yang baru saja dihuni, manusia migran dari daratan Asia mengembangkan kebudayaannya yang akan menjadi dasar perkembangan kebudayaan Asia Tenggara hingga kini.
Setelah beberapa ratus abad bermukim di daratan Asia Tenggara, orang-orang yang kemudian mengembangkan kebudayaan Austronesia tersebut, sebagian ada yang melanjutkan migrasinya ke wilayah kepulauan, menyebar ke arah kepulauan Nusantara dan juga Filipina, bahkan terus berlanjut ke arah pulau-pulau di Samudera Pasifik. Menurut Robert von Heine Geldern, migrasi ke arah wilayah kepulauan terjadi dalam dua tahap, yaitu:

  1. Tahap pertama berlangsung dalam kurun waktu antara 2500–1500 SM
  2. Tahap kedua berlangsung dalam kurun waktu yang lebih muda antara  1500—500 SM (Von Heine Geldern  1932 and 1936; Soejono 1984: 206–208).

 

Kesimpulan tersebut didasarkan kepada berbagai penemuan arkeologi, antara lain monument-monumen dari tradisi megalitik yang tersebar di berbagai wilayah Asia Tenggara termasuk di Indonesia. Kajian megalitik menunjukkan bahwa di masa silam terjadi dua gelombang migrasi dari Asia Tenggara daratan seraya membawa hasil-hasil kebudayaan megalitiknya. Gelombang pertama menghasilkan kebudayaan megalitik tua dengan cirinya selalu menggunakan batu-batu alami besar, sedikit pengerjaan pada batu, dan minimnya ornament. Dalam gelombang kedua migrasi dihasilkan kebudayaan megalitik muda yang mempunyai cirri, batu-batu tidak selalu berukuran besar, telah banyak pengerjaan pada batu, dan juga telah banyak digunakan ornamen dengan beragam bentuknya. Megalitik muda itu telah menempatkan nenek moyang bangsa-bangsa Asia Tenggara dalam era proto-sejarah. Bersamaan dengan berkembangnya kebudayaan megalitik muda, kemahiran mengolah bijih logam telah maju, sehingga masa itu juga telah dihasilkan benda-benda dari perunggu dan besi.

/02/ Kebudayaan Austronesia

Para ahli dewasa ini menyatakan bahwa migrasi orang-orang Austronesia kemungkinan terjadi dalam era yang jauh lebih tua, migrasi itu telah berlangsung mulai kurun waktu 6000 SM hingga awal tarikh Masehi. Akibat mendapat desakan dari pergerakan bangsa-bangsa di Asia Tengah, orang-orang pengembang kebudayaan Austronesia bermigrasi dan akhirnya menetap di wilayah Yunnan, salah satu daerah di Cina Selatan. Kemudian berangsur-angsur mereka menyebar memenuhi seluruh daratan Asia Tenggara hingga mencapai pantai. Selama kehidupannya di wilayah Asia Tenggara daratan sambil mengembangkan kebudayaannya yang diperoleh dalam pengalaman kehidupan mereka.

Pada sekitar tahun 3000-2500 BC, orang-orang Austronesia mulai berlayar menyeberangi lautan menuju Taiwan dan kepulauan Filipina. Diaspora Austronesia berlangsung terus hingga tahun 2500 SM mereka mulai memasuki Sulawesi,  Kalimantan dan pulau-pulau lain di sekitarnya. Dalam sekitar tahun 2000 SM kemungkinan mereka telah mencapai Maluku dan Papua. Dalam masa yang sama itu pula orang-orang Austronesia dari daratan Asia Tenggara berangsur-angsur memasuki Semenanjung Malaysia dan pulau-pulau bagian barat Indonesia. Migrasi ke arah pulau-pulau di Pasifik berlanjut terus hingga sekitar tahun 500 SM hingga awal dihitungnya tarikh Masehi.

Ketika migrasi telah mulai jarang dilakukan, dan orang-orang Austronesia telah menetap dengan ajeg di beberapa wilayah Asia Tenggara, terbukalah kesempatan untuk lebih mengembangkan kebudayaan secara lebih baik lagi. Berdasarkan temuan artefaknya, dapat ditafsirkan bahwa antara abad ke-5 SM hingga abad ke-2 M, terdapat bentuk kebudayaan yang didasarkan kepada kepandaian seni tuang perunggu, dinamakan Kebudayaan Dong-son. Penamaan itu diberikan atas dasar kekayaan situs Dong-son dalam beragam artefaknya, semuanya artefak perunggu yang ditemukan dalam jumlah besar dengan bermacam bentuknya. Dong-son sebenarnya nama situs yang berada di daerah Thanh-hoa, di pantai wilayah Annam (Vietnam bagian utara). Hasil-hasil artefak perunggu yang bercirikan ornament Dong-son ditemukan tersebar meluas di hampir seluruh kawasan Asia Tenggara, dari Myanmar hingga kepulauan Kei di Indonesia timur.

Bermacam artefak perunggu yang mempunyai ciri Kebudayaan Dong-son, contohnya nekara dalam berbagai ukuran, moko (tifa perunggu), candrasa (kampak upacara), pedang pendek, pisau pemotong, bejana, boneka, dan kampak sepatu. Ciri utama dari artefak perunggu Dong-son adalah kaya dengan ornamen, bahkan pada beberapa artefak hampir seluruh bagiannya penuh ditutupi ornamen. Hal itu menunjukkan bahwa para pembuatnya, orang-orang Dong-son (senimannya) memiliki selera estetika yang tinggi (Wagner 1995: 25—26). Kemahiran seni tuang perunggu dan penambahan bentuk ornamen tersebut kemudian ditularkan kepada seluruh seniman sezaman di wilayah Asia Tenggara, oleh karenanya artefak perunggu Dong-son dapat dianggap sebagai salah satu peradaban pengikat bangsa-bangsa Asia Tenggara.

Seorang ahli sejarah Kebudayaan bernama J.L.A.Brandes pernah melakukan kajian yang mendalam tentang perkembangan kebudayaan Asia Tenggara dalam masa proto-sejarah. Brandes menyatakan bahwa penduduk Asia Tenggara daratan ataupun kepulauan telah memiliki 10 kepandaian yang meluas di awal tarikh Masehi sebelum datangnya pengaruh asing, yaitu:

  1. Telah dapat membuat figur boneka
  2. Mengembangkan seni hias ornamen
  3. Mengenal pengecoran logam
  4. Melaksanakan perdagangan barter
  5. Mengenal instrumen musik
  6. Memahami astronomi
  7. Menguasai teknik navigasi dan pelayaran
  8. Menggunakan tradisi lisan dalam menyampaikan  pengetahuan
  9. Menguasai teknik irigasi
  10. .Telah mengenal tata masyarakat yang teratur

Pencapaian peradaban tersebut dapat diperluas lagi setelah kajian-kajian terbaru tentang kebudayaan kuno Asia Tenggara yang telah dilakukan oleh G.Coedes. Beberapa pencapaian manusia Austronesia penghuni Asia Tenggara sebelum masuknya kebudayaan luar.

Di bidang kebudayaan materi telah mampu:

  • Kemahiran mengolah sawah, bahkan dalam bentuk terassering dengan teknik irigasi yang cukup maju
  • Mengembangkan peternakan kerbau dan sapi
  • Telah menggunakan peralatan logam
  • Menguasai navigasi secara baik

Pencapaian di bidang sosial

  • Menghargai peranan wanita dan memperhitungkan keturunan berdasarkan garis ibu
  • Mengembangkan organisasi sistem pertanian dengan pengaturan irigasinya

Pencapaian di bidang religi:

  • Memuliakan tempat-tempat tinggi sebagai lokasi yang suci dan keramat
  • Pemujaan kepada arwah nenek moyang/leluhur (ancestor worship)
  • Mengenal penguburan kedua (secondary burial) dalam gentong, tempayan, atau sarkopagus.

Wacana

Dalam hal religi penduduk kepulauan Indonesia masa itu mengenal upacara pemujaan kepada arwah nenek moyang (ancestor worship). Kekuatan supernatural yang dipuja umumnya adalah arwah pemimpin kelompok atau ketua suku yang telah meninggal. Sebagai sarana pemujaannya didirikan berbagai monumen megalitik, antara lain punden berundak, menhir, dolmen, kubur batu, batu temu gelang, dan lain-lain.

Mempercayai mitologi dalam binary, kontras antara gunung-laut, gelap-terang, atas-bawah, lelaki-perempuan, makhluk bersayap, makhluk yang hidup dalam air, dan seterusnya (Hall 1988: 9).

Dalam pada itu kesatuan budaya bangsa Austronesia di Asia Tenggara lambat laun menjadi memisah, membentuk jalan sejarahnya sendiri-sendiri. Menurut H.Th.Fischer, terjadinya bangsa dan aneka suku bangsa di Asia Tenggara disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:

  1. Telah ada perbedaan induk bangsa dalam lingkungan orang Austronesia sebelum mereka melakukan migrasi.
  2. Setelah bermigrasi mereka tinggal di daerah dan pulau-pulau yang berbeda, lingkungan yang tidak seragam, dan kemampuan adaptasi budaya mereka dengan alam setempat.
  3. Dalam waktu yang cukup lama setelah bermigrasi mereka jarang melakukan komunikasi antarasesamanya (Fischer 1980: 22-25).

Berdasarkan ketiga hal itulah sub-sub bangsa Austronesia terbentuk, mereka ada ratusan yang tinggal di kepulauan Indonesia, puluhan di Filipina, Malaysia, dan Myanmar, dan yang lainnya ada yang menetap di Kamboja, Thailand, Laos, Vietnam, Brunei, dan Singapura. Sebenarnya terdapat beberapa hal lainnya yang menjadikan bangsa Austronesia terbagi dalam sub-sub bangsa, yaitu (a) adanya pengaruh asing yang berbeda-beda memasuki kebudayaan yang mereka usung, dan (b) adanya penjajahan bangsa-bangsa barat di wilayah Asia Tenggara dengan karakter dan rentang waktu yang berbeda pula. Demikianlah pada masa yang sangat kemudian terbentuklah bangsa-bangsa Asia Tenggara yang mempunyai kebudayaan dengan aneka coraj bentuknya, namun apabila ditelusuri bentuk awalnya niscaya dari bentuk kebudayaan Austronesia yang telah mengalami akulturasi selama berabad-abad dengan berbagai kebudayaan luar yang datang.

/03/ Di antara Dua Kebudayaan Dunia

Kebudayaan Austronesia tidak mungkin berkembang sendiri di wilayah Asia Tenggara, karena kawasan tersebut menjadi arena pertemuan dua kebudayaan besar Asia yang telah lama berkembang, kedua kebudayaan itu adalah India dan Cina. Di awal tarikh Masehi, dalam periode protosejarah, dapat dipastikan banyak pelaut dan niagawan dari Cina dan India saling berkunjung. Para pelaut tersebut sudah pasti melalui laut, selat, dan pantai-pantai Asia Tenggara. Pada masa itulah terjadi interaksi antara para pelaut Cina dan India dengan penduduk Asia Tenggara yang merupakan bangsa besar Austronesia yang telah mengalami diasporanya.

Kebudayaan bangsa-bangsa di Asia Tenggara (baca: Austronesia) akhirnya diperkaya dengan diterimanya pengaruh dua kebudayaan besar Asia pada masa itu. Maka tidak mengherankan apabila banyak aspek kebudayaan yang datang dari India dan Cina kemudian diterima oleh sub-bangsa-bangsa Austronesia di Asia Tenggara. Apabila diperhatikan secara saksama, maka banyak bangsa Asia Tenggara yang pada awal tarikh Masehi justru menerima kebudayaan India. Penduduk di wilayah Jawa, Sumatera, Bali, Semenanjung Malaysia, Tumasik (Singapura), Thailand, Khmer, Champa, Myanmar yang menerima aspek-aspek budaya India. Adapun Laos dan Vietnam banyak dipengaruhi oleh budaya Cina, walaupun pengaruh kebudayaan India  meninggalkan pula jejaknya –walau sedikit–  di Laos dan Vietnam. Filipina agaknya lebih lama berada dalam masa proto-sejarah dan tetap mengembangkan kebudayaan Austronesia yang awal. Berdasarkan bukti-bukti arkeologis yang dapat dilacak di Filipina, dapat ditafsirkan bahwa Filipina tidak banyak mendapat pengaruh dari kebudayaan India atau Cina. Penduduk Filipina selatan langsung menerima agama Islam dalam abad ke-15, sedangkan penduduk Filipina di pulau-pulau bagian utara yang masih mengembangkan kebudayaan Austronesia langsung bergaul dan menerima kebudayaan Spanyol yang mengembangkan agama Katholik.

Apabila dibuat prosentasinya negara-negara Asia Tenggara yang mendapat pengaruh budaya India dan yang mendapat pengaruh budaya Cina di awal tarikh Masehi,  maka keluarlah angka 70 % untuk budaya India, 20 % untuk budaya Cina, dan 10 % yang masih mengembangkan budaya Austronesianya, artinya tidak mendapat pengaruh dari dua kebudayaan tersebut. Sebenarnya hanya 3 aspek yang diterima dari kebudayaan India oleh kebudayaan sub-bangsa-bangsa Austronesia di Asia Tenggara, yaitu (1) agama Hindu-Buddha, (2) penggunaan aksara Pallava yang menjadi dasar terbentuknya aksara-aksara tradisional Asia Tenggara, dan (3) sistem kalender Saka. Berpijak kepada 3 hal itulah maka kebudayaan Austronesia menjadi lebih pesat berkembang memasuki zaman sejarahnya. Sumbangan dari kebudayaan Cina yang mengendap dan menjadi dasar perkembangan perkembangan kebudayaan selanjutnya hampir sedikit dirasakan oleh orang-orang Austronesia, kecuali pengaruh politik yang dirasa lebih dominan dari pada India. Banyak sumber sejarah Asia Tenggara selalu menyatakan bahwa raja-raja yang baru dilantik akan mengirimkan utusan ke Cina sebagai informasi atas kedudukan barunya dan seperti meminta pengesahan dari para kaisar Cina.

Ketika agama Islam mulai mengembangkan institusi kerajaan pertama di Asia Tenggara, yaitu Samudera Pasai di wilayah Aceh; banyak bangsa Asia Tenggara daratan masih setia melaksanakan ritus agama Buddha Mahayananya, seperti di Laos, Thailand. Khmer, dan Myanmar. Islam seakan-akan hanya Berjaya di wilayah Asia Tenggara kepulauan dan semenanjung, sementara di pedalaman Asia Tenggara tidak mendapat sambutan yang semarak. Agama Islam adalah pengaruh luar yang datang lebih kemudian ke Asia Tenggara, sesuai dengan para pembawanya yang merupakan kaum niagawan, maka pada awalnya agama tersebut perkembang di wilayah yang mempunyai pantai dan bandar niaga, sudah pasti Islam akan berkembang di wilayah kepulauan dan wilayah tepian continental yang kerapkali dikunjungi para pedagang Islam.

Tidak bisa dipungkiri bahwa Islam adalah bentuk kebudayaan ketiga yang turut memperkaya perkembangan kebudayaan Austronesia di Asia Tenggara. Hanya saja diakui bahwa agama tersebut hanya dipeluk oleh sebagian dari sub bangsa Austronesia yang lazim dinamakan ras Melayu, tetapi Melayu tidak identik dengan Islam.

/06/ Akar Peradaban Asia Tenggara

Selanjutnya adalah perihal peradaban yang dikembangkan oleh bangsa-bangsa Asia Tenggara yang sebenarnya adalah sub-bangsa Austronesia. Telah dikemukakan bahwa kebudayaan keturunan orang-orang Austronesia di negara-negara Asia Tenggara berkembang sesuai dengan jalan sejarah dan juga pengaruh asing yang mendatanginya. Peradaban oleh para ahli kurang lebih didefinisikan sebagai bagian dari kebudayaan yang baik, maju, dan indah. Termasuk ke dalam peradaban adalah keberaksaraan, masyarakat yang kompleks, kemajuan teknologi, dan pembangunan pemukiman.

Bangsa-bangsa Asia Tenggara telah memiliki benih dari perkembangan peradabannya. Datangnya pengaruh kebudayaan India, Cina, dan Islam, sejatinya bagaikan air penyiram benih yang siap disemaikan. Benih itulah yang mengakar jauh sejak masa prasaejarah lalu memasuki era protosejarah dan akhirnya menembus zaman sejarah. Akar yang sama itu dimiliki oleh bangsa-bangsa Asia Tenggara, akar tersebut berupa segala pencapaian yang telah berhasil diraih oleh bangsa Austronesia sebelum pengaruh luar memperkaya kebudayaan mereka. Akar itu adalah segala kepandaian yang dimiliki bangsa Austronesia dalam masa prasejarah sebagaimana yang telah dikemukakan terdahulu. Kemudian masuklah berbagai aspek kebudayaan dari India (terbanyak) dan Cina. Sumbangan terpenting dari kebudayaan India sebenarnya adalah pengenalan terhadap aksara. Maka aksara Pallava lah yang dipilih oleh nenek moyang orang Indonesia, Thailand, Khmer, dan Myanmar untuk menuliskan pengalaman-pengalaman mereka dalam prasasti. Berkat adanya aksara juga pengetahuan dan perjalanan hidup nenek moyang bangsa-bangsa Asia tenggara itu didokumentasikan dalam suatu historiografi Asia Tenggara yang disebut berbeda-beda pada tiap bangsa. Di Indonesia sendiri ada yang menyebutnya dengan Babad, Hikayat, Tambo, Salasilah, Bo, Sajarah, dan lain-lain. Dengan dikenalnya tulisan Pallava Asia Tenggara memasuki Zaman sejarahnya, sekitar abad ke-4 M, sebelumnya masih dalam zaman transisi antara prasejarah dan sejarah yang disebut proto-sejarah. Dengan demikian akar peradaban bangsa-bangsa Asia Tenggara yang kelak bergabung dalam ASEAN adalah “Peradaban Austronesia minus aksara”.

/07/ Epilog: Central Consepts of ASEAN Civilization

ASEAN dalam dinamika kebudayaan Austronesia sebenarnya terletak di pusat ethno-genesisnya. Di tengah wilayah Austronesia yang membentang dari barat adalah Madagaskar hingga Pulau Paskah di timur, dan mulai dari Taiwan-mikronesia di utara sampai wilayah Selandia Baru di selatan, itulah wilayah jelajah nenek moyang Austronesia.

Dalam suatu kebudayaan pasti terdapat konsep-konsep inti sehingga menjadi kebudayaan tersebut tetap bertahan dan mempunyai jati dirinya, walaupun harus menembus ruang geografi dan zaman-zaman berbeda. Setelah memperhatikan perkembangan kebudayaan di Asia Tenggara tempat terbentuknya ASEAN, maka terdapat beberapa central concept yang dapat dikembangkan bersama oleh negara-negara ASEAN sebagai peradaban ASEAN (ASEAN Civilization),

  1. Kebudayaan leluhur bersama Austronesia: jejak kebudayaan ini ada di setiap negara ASEAN hingga sekarang, walaupun tersaput oleh anasir kebudayaan baru yang datang kemudian. Contoh: terekam dalam bahasa, arsitektur rumah tradisional, tata kota, “the soul of government system”, religi etnik, kesenian, ornamen, adat sopan satun, dan lain-lain.
  2. Kemampuan peradaban ASEAN untuk berinteraksi dan berdialog dengan budaya luar yang datang, kemudian unsur budaya luar itu menjadi luluh dan dianggap sebagai milik sendiri. Akibat adanya kemampuan tersebut penduduk wilayah Asia Tenggara sejak masa silam tidak pernah menjadi India atau menjadi Cina dalam bidang budaya, melainkan tetap Austronesia.
  3. Tradisi agraris dan maritim yang sebenarnya sangat kuat mengakar, namun akibat kolonialisme banyak negara yang melupakan kedua kemampuan itu. ASEAN sebagai ethno-genesis Austronesia harus mampu mengembangkan lagi pencapaian-pencapaian baru di bidang agraris (telah dipelopori Thailand) dan maritim (seharusnya Indonesia).
  4. Toleransi dan Solidaritas ASEAN telah ditunjukkan sejak masa silam. Terdapat berita tertulis yang menyatakan ada kerjasama antara beberapa kerajaan Asia Tenggara untuk membendung pengaruh Cina yang selalu mendesak ke selatan.
  5. Penyebaran peradaban “kita bukan berasal dari mana-mana, namun menyebar ke mana-mana”. Bercermin sejak masa silam wilayah Asia Tenggara selalu didatangi oleh pengaruh luar, dan pengaruh budaya Asia Tenggara itu meluas hingga sepertiga dari bola bumi.

Demikian beberapa  postulat penting yang dapat diangkat dari kebudayaan Austronesia yang sebenarnya menjadi dasar terbentuknya kebudayaan di negara-negara ASEAN. Dalam kebudayaan tersebut terdapat hal-hal yang maju, indah, dan bermutu bagi kepentingan seluruh umat manusia, itulah yang disebut peradaban Austronesia; tentunya sekarang dapat dijuluki The ASEAN Civilization.

DAFTAR PUSTAKA:

BASHAM, A.L., 1959, The Wonder That was India: A Survey of the Cultural of the Indian Sub-Continent  before The coming of the Muslims. New York: Brove Press, Inc.

BELLWOOD, PETER, 1978, Man’s Conquest of  The Pasifiq: The Prehistory of Southeast Asia and Oceania. Auckland, Sydney, London: William Collins Publishers Ltd.

FISCHER, G.TH., 1980. Pengantar Antropologi Kebudayaan Indonesia. Seri Pustaka Sarjana. Terjemahan Anas Makruf. Jakarta: PT.Pembangunan.

HALL, D.G.E., 1988. Sejarah Asia Tenggara. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh I.P.Soewarsha. Surabaya: Usaha Nasional.

HEINE-GELDERN, ROBERT  VON, 1945, “Prehistoric Research in The Netherlands Indies”,  edited by Pieter Honig and Frans Verdoorn, Science and Scientists in The Netherlands Indies. New York: The Riverside Press. Pages 129—167.

SOEJONO, R.P. (vol.editor), 1984, Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: PN.Balai Pustaka.

VOGEL, J.PH., 1925, “The Earliest Sanskrit Inscriptions of Java”, Publicaties van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie I: 15—35.  Batavia. 

WAGNER, FRIZT A., 1995, Indonesia: Kesenian Suatu Daerah Kepulauan. Tranlated by Hildawati Sidharta. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud.

Makalah ini disampaikan dalam Lokakarya Sentralitas ASEAN. Tema: “Eksistensi ASEAN di Tengah Perkembangan Tatanan Regional” Direktorat Jendral Kerjasama ASEAN,  DEPLU R.I. Yogyakarta, 22-23 Juni 2009

 

Keutamaan dan Keistimewaan Puasa

Segala puji hanya milik Allah Yang Maha Esa. Shalawat dan salam tetap atas seorang yg tidak ada nabi setelahnya Muhammad saw .. Amma ba’du. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw bersabda yg artinya “Segala amal kebaikan manusia adl untuknya; satu kebaikan akan dibalas sepuluh hingga 700 kali-lipat. Allah SWT berfirman ‘Kecuali puasa krn ia adl milikKu dan Aku pula yg akan membalasnya ia meninggalkan syahwatnya makanan dan minumannya krn Aku’. Ada dua kebahagiaan yg diperuntukkan bagi orang yg berpuasa; kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika berjumpa dgn Tuhannya. Sesungguhnya bau mulut orang yg berpuasa lbh harum bagi Allah daripada aroma minyak misik.” . Allah SWT telah mengistimewakan puasa di antara amal kebaikan lainnya dgn menyandarkannya langsung kepada Zat-Nya dalam hadis qudsi Allah berfirman “?kecuali puasa krn ia adl milikKu ?.” Mengenai makna hadis ini banyak dijumpai pendapat para fuqaha dan ulama lainnya mereka menerangkan beberapa alasan pengistimewaan puasa ini di antara alasan yg terbaik adalah Pertama puasa adl ibadah dalam bentuk meninggalkan keinginan dan hasrat jiwa yg dasar yg terbentuk secara fitrahnya cendrung mengikuti semua keinginannya dan dilakukan semata-mata krn Allah SWT. Hal ini tidak terdapat pada ibadah-ibadah selain puasa. Ibadah ihram misalnya mengandung larangan melakukan hubungan suami-istri dan hal-hal yg merangsangnya seperti mengenakan parfum sementara itu di dalamnya tidak terkandung larangan memenuhi hasrat jiwa yg lain seperti makan dan minum. Sama halnya dgn ihram i’tikaf pun demikian sekalipun ia merupakan ibadah yg ikut dalam cakupan puasa . Sedangkan salat sekalipun orang yg sedang salat diharuskan meninggalkan semua hasrat jiwanya namun itu hanya dilakukan pada masa yg tidak lama sehingga orang yg salat tidak merasa kehilangan makanan dan minuman bahkan sebaliknya ia dilarang salat ketika hatinya menginginkan makanan yg ada di hadapannya sampai ia memakannya ala kadarnya yg membuat hatinya tenang karenanya ia diperintahkan utk makan malam terlebih dahulu sebelum salat. Ini semua berbeda dgn puasa yg dilakukan sepanjang siang hari penuh. Oleh krn itu orang yg berpuasa akan merasakan kehilangan hasrat jiwanya ini saat hatinya sangat menginginkannya terutama pada siang hari musim kemarau yg sangat panas dan lama oleh krn itu ada sebuah riwayat menerangkan bahwa termasuk bagian dari iman puasa di musim kemarau. Rasulullah saw sebagaimana diriwayatkan oleh Abu al-Darda’ ra pernah berpuasa Ramadhan dalam sebuah perjalanan dalam cuaca yg sangat panas ketika para sahabat tidak ikut berpuasa . Dalam sebuah riwayat diterangkan bahwa Rasulullah saw pernah berada pada dataran tinggi ketika sedang berpuasa ketika itu beliau menuangkan air ke atas kepalanya krn dahaga atau panas yg dirasakannya. Ketika hati seseorang sangat merindukan sesuatu yg diinginkannya dan ia mampu utk mendapatkannya namun ia meninggalkannya krn Allah SWT padahal ketika itu ia berada di suatu tempat yg tidak ada orang pun yg mengawasinya kecuali Allah maka hal ini merupakan tanda kebenaran imannya. Orang yg berpuasa yakin bahwa ia mempunyai Tuhan yg selalu mengawasinya ketika ia berada di tempat yg sepi dan mengharamkan kepadanya memenuhi hasrat jiwanya yg memang telah dikodratkan bahwa ia akan selalu menginginkannya. Lalu ia pun menaati Tuhannya melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya krn takut akan siksa-Nya dan mengharapkan pahala-Nya. Oleh krn itulah Allah berterima kasih kepadanya atas yg demikian itu dan Ia mengkhususkan amal perbuatan ini di antara amal-amal lainnya utk Zat-Nya karenanya setelah itu Allah SWT berfirman “Sungguh ia telah meninggalkan hasrat makanan dan minumannya semata-mata hanya krn Aku.” Tatkala seorang mukmin yg berpuasa mengetahui bahwa ridha Tuhannya terdapat pada upayanya meninggalkan hasrat jiwanya maka ia akan lbh mendahului ridha Tuhannya atas hawa nafsunya. Maka jadilah kelezatan yg dirasakannya terdapat ketika ia meninggalkan hasratnya krn Allah krn ia yakin bahwa Allah selalu mengawasinya dan pahala serta siksa-Nya lbh besar dibandingkan kelezatan yg diperolehnya ketika memenuhi hasratnya di tempat sepi. Hal ini krn ia lbh mementingkan ridha Tuhannya dari pada hawa nafsunya. Bahkan kebencian seorang mukmin terhadap hal itu saat berada di tempat sepi akan lbh besar dibandingkan kebenciannya terhadap rasa sakit akibat pukulan. Salah satu tanda keimanan adl kebencian seorang mukmin terhadap keinginan hasrat jiwanya ketika ia tahu bahwa Allah tidak menyukainya maka jadilah kelezatannya terdapat pada hal-hal yg diridhai oleh Tuhannya sekalipun bertentangan dgn keinginan nafsunya dan kepedihan yg dirasakannya terdapat pada hal-hal yg tidak disukai Tuhannya sekalipun bersesuaian dgn keinginan nafsunya. Dikatakan dalam sebuah syair “Siksanya karenamu terasa sejuk dan jauhnya karenamu terasa dekat.Engkau bagiku bagaikan nyawaku bahkan engkau lbh aku cintai dibanding nyawaku.Cukuplah bagiku rasa cinta bahwa aku mencintai apa yg engkau cinta.” Kedua puasa merupakan rahasia antara seorang hamba dan Tuhannya yg hanya diketahui oleh-Nya krn puasa terdiri dari niat yg tersembunyi yg hanya diketahui oleh Allah saja dan meninggalkan hasrat jiwa yg biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Oleh krn itu dikatakan bahwa puasa ini tidak dicatat oleh malaikat hafadhah . Pendapat lain mengatakan bahwa pada puasa tidak terdapat riya’. Pendapat ini bisa dikembalikan kepada yg pertama krn orang yg meninggalkan keinginan nafsunya krn Allah SWT di mana tidak ada yg mengawasinya ketika itu kecuali hanya Zat yg memberinya perintah dan larangan maka hal ini menunjukkan kebenaran imannya. Allah SWT menyukai jika hamba-hamba-Nya berhubungan dengan-Nya secara rahasia dan orang-orang yg mencintai-Nya juga menyukai jika mereka dapat berhubungan dengan-Nya secara rahasia sampai-sampai beberapa dari mereka sangat menginginkan seandainya para malaikat hafadhah tidak mengetahui ibadah yg dilakukannya. Ketika beberapa rahasianya terbongkar sebagian dari mereka berkata “Hidup ini akan terasa nyaman ketika hubungan antara aku dan Dia tidak diketahui oleh siapa pun.” Lalu ia memohon agar ia dimatikan dan tak lama kemudian ia meninggal dunia. Orang-orang yg mencintai akan merasa cemburu seandainya orang-orang yg cemburu kepadanya mengetahui rahasia-rahasia antara mereka dan Zat yg mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya. “Janganlah kamu sebarkan rahasia yg terjaga krn aku akan merasa cemburu jika yg aku cintai disebutkan di hadapan orang-orang yg ada bersamaku.” Sumber Diadaptasi dari Lathaif al-Ma’arif fi Ma li Mawasim al-’Am min al-Wadhaif al-Hafidz Ibnu Rajab al-HanbaliOleh aldakwah.com Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia